EKOBIS

Bulog Belum Menjalankan Permendag No. 27 Tahun 2017

KOLAKAPOS, Jakarta–Akhir – akhir ini banyak keluhan terhadap ketidakhadiran Bulog di tengah petani bawang merah.

Hal ini ditengarai diduga karena Bulog belum serius menjalankan arahan Presiden RI untuk pengendalian harga pangan yang implementasinya diatur debgan Permendag 27/2017.

Hal ini terbukti munculnya keluhan para petani yang disampaikan Kepala Dinas Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat kepada Menteri Pertanian melalui surat.

Seperti di Solok, Sumatera Barat, harga di tingkat petani rata -rata Rp. 12.120 per kg dan ini berada di bawah harga acuan pembelian yang ditetapkan Menteri Perdagangan Nomor 27/M-DAG/ PER/5/2017.

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan ini ditetapkan harga di tingkat petani untuk jenis Konde Basah Rp. 15.000 per kg, Konde Askip Rp. 18.300 per kg dan Rogol Rp. 22.500, sedangkan penjualan di tingkat konsumen Rp. 32.000 per kg.

Hal yang juga dialami petani di Kabupaten Enrekang, Bantaeng dan Jeneponto.

“Harga di tiga kabupaten ini berada pada level Rp. 11.000 per kg,” ujar Plh Kepala Dinas Sulawesi Selatan Fitriani.

Di Kabupaten Malang, yang terjadi lebih menyedihkan. Harga saat ini Rp. 9500 per kg.

Untuk Kabupaten Banyuwangi harga sedikit lebih baik dibanding kabupaten tetangganya, yaitu Rp. 14.000.

Menurut Bambang Heryanto, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, hal ini terjadi karena Bulog tidak komit menyerap hasil produksi petani bawang.

Guna mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi juga di beberapa kabupaten penghasil bawang merah lainnya di Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Juni Astuti mengharapkan agar Bulog hadir di tengah petani.

Terutama karena diproyeksikan petani akan panen pada Juni ini sebesar 17.195 ton dan bulan Juli sebesar 31.159 ton.

“Jawa Tengah merupakan penyangga kebutuhan bawang merah secara nasional (31%) karena itu Bulog harus lebih serius menyerap agar suplai dan inflasi tetap terjaga serta nilai tukar petani meningkat” kata Astuti. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top