EKOBIS

Rupiah Diprediksi Menguat pada 2017, Melemah Akhir 2018

KOLAKAPOS, Jakarta–Skha Institute for Global Competitiveness (SIGC) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 5,1 persen.

Sementara itu, pada tahun depan pertumbuhannya diprediksi mencapai 5,3 persen.

Mesin utama pertumbuhan adalah konsumsi rumah tangga.

Pada tahun lalu, kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 2,7 persen dari pertumbuhan ekonomi 5,0 persen.

Karena itu, pemerintah dituntut mampu mengendalikan inflasi dari harga-harga yang dikendalikan pemerintah (administered prices).

Misalnya, harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik.

Alasannya, konsumsi rumah tangga menjadi motor pemulihan kondisi perekonomian.

”IGC melihat adanya risiko pelemahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada tahun ini akibat tekanan inflasi jika pemerintah terus-menerus menaikkan administered prices,’’ ungkap Chief Economist SIGC Eric Alexander Sugandi
Kenaikan harga komoditas energi seperti saat ini merupakan momentum untuk meningkatkan kinerja ekspor.

Selain itu, juga meningkatkan investasi di sektor energi dan daya beli masyarakat.

Eric mengakui, laju inflasi memang menurun dari 8,4 persen pada 2014 menjadi tiga persen pada akhir 2016.
Hal itu disebabkan capital outflows investor asing menjelang Pemilu 2019. (jpnn)

Penyebabnya, perubahan penentuan harga BBM yang gradual, bukan sekali naik dalam jumlah besar (one-off).

Namun, tahun ini inflasi diperkirakan kembali meningkat menjadi 4,0 persen karena tekanan administered prices.

Terkait dengan nilai tukar, Eric memprediksi terjadi penguatan dari 13.473 per USD pada akhir 2016 menjadi 13.200 per USD pada akhir 2017.

Penguatan didukung surplus neraca pembayaran yang melebihi defisit neraca transaksi berjalan.

Namun, rupiah kembali diprediksi melemah pada akhir 2018 ke kisaran Rp 13.400.
Hal itu disebabkan capital outflows investor asing menjelang Pemilu 2019. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top