KOLAKA TIMUR

Waspadai Daging Gelonggongan dan Ayam Tiren

Ilustrasi daging sapi segar.

KOLAKAPOS, Tirawuta–Setiap hari besar keagamaan, kebutuhan pangan masyarakat meningkat. Saat seperti ini ada saja yang memanfaatkan untuk meraup keuntungan dengan cara tidak benar. Satu yang sering dikhawatirkan masyarakat adalah peredaran daging gelonggongan dan ayam mati kemaren (tiren).

Menurut Plt Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kolaka Timur, Sahibo, daging gelonggongan adalah daging yang didapat dari hewan yang sebelum disembelih terlebihdahulu diberi minum air secara berlebihan. Bahkan, tak jarang hewan bersangkutan pingsan karena kelebihan minum, baru dipotong. Tujuan dari pemberian minum berlebih itu adalah untuk mendapatkan timbangan lebih berat sehingga harga jual yang diperoleh secara curang ini jadi lebih mahal.
“Makanya, kita turun di lapangan dan selalu mengingatkan para pedagang agar tidak melakukan hal seperti itu (menjual daging gelonggongan dan ayam tiren, red). Sebab, jika itu terjadi, bisa saja terjadi proses hukum. Tapi Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kita dapati di Kolaka Timur,” bebernya.
Bukan hanya daging gelonggongan dan ayam tiren yang dikhawatirkan dijual secara bebas. Masyarakat juga harus waspada terhadap ikan dan ayam yang berformalin. Pasalnya, ada empat macam pangan segar yang sering dicampur formalin, yakni ikan, tahu, ayam dan daging.
“Masyarakat harus tetap waspada terhadap ikan dan ayam yang mengandung formalin. Ada pun ciri-ciri ayam berformalin adalah tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar 25 derajat celcius, teksturnya kencang. Adapun ciri-ciri ikan segar berformalin adalah tidak rusak sampai tiga hari, warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih. Ikan asin yang mengandung formalin tidak rusak sampai lebih dari satu bulan pada suhu kamar 25 derajat celcius. Bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin dan tidak dihinggapi lalat di area berlalat. Ciri-ciri tahu berformalin, tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es 10 derajat celcius. Tahu terlalalu keras, kenyal namun tidak padat, bau agak menyengat, bau formalin,” jelasnya. (ing)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top