EKOBIS

Pokoknya, Tak Boleh Impor Garam

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Pamekasan–Belakangan persediaan garam di Indonesia belum menemukan solusi. Pemerintah berencana melakukan impor garam.

Namun, DPRD Pamekasan, Jatim menolak rencana tersebut. Wakil rakyat curiga ada oknum yang bermain untuk memuluskan impor.

Ketua Fraksi PKB DPRD Pamekasan Samsuri, dengan tegas, menolak rencana impor garam.

Sebab, kelangkaan garam dinilai bagian dari permainan oknum agar bisa mengakses izin impor kristal yang mengandung NaCl itu.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan tersebut menilai, ada beberapa kejangggalan dalam persoalan garam.

Di antaranya, realisasi anggaran Rp 300 miliar di PT Garam kurang dari 60 persen.

Kemudian, pembangunan gudang senilai Rp 64 miliar belum terwujud. “Kalau anggaran ini terwujud, saya yakin sangat membantu petani garam,” ujarnya.

Menurut Samsuri, rencana impor garam terkesan tergesa-gesa. Pemerintah tidak melakukan tahap kajian yang matang.

Seharusnya ditentukan lebih dulu kelangkaan garam konsumsi itu terjadi di pabrik atau rumah tangga.

Penghitungan tersebut akan menjadi cikal bakal penentuan jumlah garam yang hendak didatangkan dari luar negeri.

“Kelangkaan garam konsumsi terjadi di sektor pabrik atau di rumah tangga. Baru bisa disimpulkan impor itu perlu apa tidak. Mendesak apa tidak,” tambahnya.

Terpisah, Direktur Keuangan PT Garam Anang Abdul Qoyyum, secara implisit, mengakui adanya rencana impor garam.

Hanya, pria yang sekaligus pemegang amanah bidang pemasaran itu belum menjelaskan secara detail.

Saat dihubungi Jawa Pos Radar Madura (JPRM), pria yang diangkat menjadi direktur keuangan pada 21 Juni 2017 oleh Menteri BUMN Rini M. Soemarno tersebut mengaku rapat. Rapat itu membicarakan rencana impor garam.

Salah seorang pimpinan perusahaan garam swasta Ali Mahdi menyampaikan bahwa jumlah produksi garam sangat minim.

Mantan Direktur Pemasaran PT Garam tersebut menjelaskan, kebutuhan garam nasional mencapai 4 juta ton

Sementara itu, produksi garam di Indonesia pada musim normal maksimal 3 juta ton. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top