EKOBIS

Harga Lelang Gula Rendah, APTRI Usul Kenaikan HPP dan HET

Net/ILustrasi

KOLAKAPOS, Surabaya–Harga rata-rata lelang gula pada musim giling tahun ini lebih rendah dibanding tahun lalu.

Saat ini, harga gula rata-rata mencapai Rp 9.500 per kg.

Angka itu turun dari musim giling tahun lalu sebesar Rp 11 ribu per kg.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menyatakan, rendahnya harga lelang disebabkan penerapan harga eceran tertinggi (HET) dan harga pokok produksi (HPP).

Karena harga ditetapkan pemerintah, petani merugi. Sebab, biaya produksi terus meningkat.

”Kami mengusulkan kenaikan HPP dan HET,” kata Soemitro.

APTRI telah mengusulkan HPP Rp 11.767 per kg.

Angka tersebut ditentukan dengan mempertimbangkan biaya pokok produksi (BPP) yang meningkat menjadi Rp 10.600 per kg.

BPP diperoleh dari asumsi produktivitas tebu dan rendemen serta perhitungan biaya bibit, pupuk, dan traktor.

Selain itu, biaya produksi lain meningkat akibat kenaikan BBM. Misalnya, biaya garap, upah tenaga kerja, serta biaya tebang angkut.

Namun, Kementerian Perdagangan ternyata menetapkan HPP gula Rp 9.100 per kg dan HET gula Rp 12.500 per kg.

Akibatnya, harga beli gula petani tertekan hingga menyentuh Rp 9.100 per kg.

Usul untuk menaikkan HPP dan HET masing-masing menjadi Rp 11 ribu dan Rp 14 ribu per kg dinilai wajar.

Pasalnya, petani dan pedagang berhak mendapatkan keuntungan secara wajar.

”Namun, tidak memberatkan konsumen,” ungkap Sekjen APTRI Nur Khabsyin.

Selain biaya produksinya naik, produktivitas tebu pada tahun ini rendah. Yakni, hanya 70–80 ton per hektare dengan rendemen 6–7 persen.

”Rendemen rendah karena mesin pabrik gula sudah tua,” jelasnya.

APTRI juga menilai penerapan HET tidak tepat karena gula bukan komoditas yang mendapat subsidi pemerintah.

”Kalau mau harganya murah, gula seharusnya disubsidi seperti subsidi pupuk,” ujarnya. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top