BERITA UTAMA

Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara Triwulan II Tertinggi di Indonesia

KOLAKAPOS, Kendari–Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara Pada Triwulan II 2017 Tertinggi se Indonesia dimana tercatat sebesar 7,0% (yoy). Hal ini disampikan Kepala Perwakilan BI Prov. Sultra, Minot Purwahadi. Jumat (11/8).

Menurutnya pertumbuhan ekonomi triwulan II ini, mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. yang tumbuh sebesar 8,1%(yoy). Tetapi walaupun mengalami perlambatan di periode tersebut, pertumbuhan ekonomi Sultra tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang tercatat sebesar 5,0%.

“Jika dibandingkan provinsi lain di Indonesia pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara tercatat merupakan yang tertinggi di Indonesia,” katanya

Disebutkan, pada sisi penawaran, perlambatan terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha konstruksi. Perlambatan pada kedua lapangan usaha tersebut disebabkan oleh tingginya curah hujan yang mengganggu aktivitas pertambangan dan penggalian dan penyelesaian proyek terutama pada sektor konstruksi.

“Faktor penyebab lain yakni tingginya based point effect pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian di triwulan I 2017, setelah pada akhir 2016 salah satu perusahaan tambang terbesar mengurangi produksi karena stok yang dimiliki masih banyak. Namun demikian membaiknya pertumbuhan lapangan usaha pertanian seiring masuknya musim panen dan meningkatnya kinerja lapangan usaha industri pengolahan seiring peningkatan produksi nikel olahan, mampu menahan perlambatan pertumbuhan yang terjadi,” sebutnya.

Sementara itu dari sisi permintaan perlambatan disebabkan oleh adanya perlambatan pada komponen konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor. Pembayaran gaji ke 13 dan 14 kepada PNS/ASN dan TNI/Polri yang dibayarkan secara terpisah (Juni dan Juli) turut menyebabkan terjadinya perlambatan konsumsi pemerintah.

“Disisi lain inflasi Sultra pada bulan Juli 2017 tercatat sebesar 0,99% (mtm), menurun jika dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat sangat tinggi mencapai 3,24% (mtm). Secara spasial penurunan inflasi pada Juli 2017 disebabkan oleh inflasi di Kota Kendari. Sementara untuk Kota Baubau mengalami peningkatan dan merupakan kota dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia di periode laporan.

Sedabgkan Tekanan inflasi kelompok volatile food (VF) mengalami penurunan yang signifikan dan merupakan penyebab utama penurunan yang terjadi di periode Juli 2017. Pada periode laporan penurunan tekanan inflasi kelompok volatile food hanya terjadi di Kota Kendari. Sementara untuk Kota Baubau tercatat mengalami peningkatan.

“Penurunan tekanan inflasi tersebut utamanya disebabkan oleh deflasi yang terjadi pada komoditas sayuran dengan andil -0,07 setelah pada periode sebelumnya memiliki andil cukup besar yang mencapai 1,85%. Pada bulan Juli komoditas sayur-sayuran yang tercatat mengalami deflasi cukup dalam antara lain bayam, kangkung, sawi hijau, jantung pisang dan terong panjang. Penurunan tekanan inflasi tersebut disebabkan oleh telah kembali normalnya pasokan komoditas tersebut terutama di Kota Kendari. Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai sebesar 11,50% (yoy),”terangnya.

Ditambahakan Inflasi kelompok inti dan administered price pada bulan Juli 2017 juga tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan inflasi inti disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok makanan jadi dan sandang seiring dengan kembali normalnya permintaan masyarakat pasca Idul Fitri.

“Sedangkan penurunan tekanan inflasi kelompok administered prices didorong oleh deflasi bahan bakar rumah tangga dan penurunan tekanan tarif listrik seiring dengan telah berakhirnya peningkatan tarif listrik sebagai dampak pencabutan subsidi listrik untuk kelompok pelanggan 900 VA terutama pada golongan pasca bayar dan penurunan tarif angkutan udara pasca lebaran,” tandasnya (k1/b/hen)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top