BERITA UTAMA

Bermasalah, Percetakan Sawah di Lalonggolosua Kolaka

Ilustrasi/Net

KOLAKAPOS, Kolaka – Program Percetakan sawah baru di Desa Lalonggolosua Kecamatan Tanggetada Kolaka kembali menuai masalah. Percetakan sawah seluas kurang lebih 58 hektar yang dikerjakan tahun 2016 lalu itu ditengarai telah terjadi tumpang tindih lahan dari tahun sebelumnya. Selain itu, lahan yang telah dikerjakan hingga saat ini sebagian tak bisa ditanami lantaran kondisi lahannya masih berupa semak belukar.

Salah seorang kelompok tani di desa itu menyayangkan percetakan sawah yang telah dikerjakan itu tak bisa ditanami lantaran masih ditumbuhi dengan semak belukar hingga telah menjadi hutan. Bahkan kata dia, lahan yang dikerjakan itu sebagian masuk kedalam areal lahan Desa Lamedai yang notabene telah dikerjakan pada tahun sebelumnya dengan program yang sama.

“Saya tahu persis bahwa lahan yang diusulkan oleh kelompok tani itu pernah dikerjakan oleh kelompok tani dari Desa Lamedai yang kini telah bergulir ke proses hukum. Artinya lahan yang disebut telah dikerjakan sudah dikerjakan oleh kelompok tani dari desa tetangga. Inikan sudah tumpang tindih namanya,” terang warga yang minta identitasnya tak disebutkan.

Kepala Desa Lalonggolosua, Jaelani Hasan yang dimintai keterangan membenarkan terjadinya masalah pada percetakan sawah tahun 2016 di desanya itu. Menurut Jaelani, sejak program percetakan sawah tersebut berjalan, Ketua Kelompok Tani (Poktan) yang dipercayakan mengelolah pekerjaan tersebut tak pernah melaporkan kepadanya sebagai pemerintah desa. Makanya kata dia, setelah program tersebut diketahui menuai masalah, dirinya langsung mengambil sikap dengan memanggil ketua poktan Mattirodeceng sebagai pihak yang menerima bantuan tersebut.

“Awalnya saya tidak mengetahui jika percetakan sawah itu ada masalah, namun belakangan setelah saya mendengar dari beberapa pihak, saya memanggil ketua poktannya untuk menanyakan terkait informasi tersebut. Karena diduga kuat memang terjadi masalah, maka saya pun menggantikan jabatannya sebagai aparat Desa Lalonggolosua dengan pertimbangan jika dirinya dimintai keterangan, tidak mengganggu pekerjaannya sebagai Kaur Pemerintahan di Desa Lalonggolosua,” terang Jaelani.

Jaelani juga mengakui setelah masalah ini diketahuinya dirinya pernah mengecek bantuan Pupuk dan benih yang menjadi rangkaian bantuan dalam program percetakan sawah tersebut.

“Saya pernah mengecek disalah satu toko yang dijadikan tempat menyimpan pupuk dan benih padi yang ada disini, namun berdasarkan
keterangan pemilik toko Mandiri, katanya pupuk dan benih tersebut telah dibeli dari kelompok tani yang menjadi penerima bantuan itu,”
kata Kades Lalonggolosua.

Sementara itu, Mantan Kadis Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Kolaka, Muh. Azikin yang dikonfirmasi mengatakan bahwa masalah lahan yang diduga menjadi tumpang tindih lahan program percetakan sawah yang dikerjakan di Desa Lalonggolosua tahun 2016 tersebut tidak diketahui sebelumnya, sebab lahan yang dikerjakan itu merupakan usulan dari kelompok tani penerima bantuan. Selain itu saat peninjauan lahan, pihaknya Dinas Pertanian juga melibatkan aparat Desa Lalonggolosua.

“Kami anggap tidak ada masalah terhadap lahan tersebut, karena lahan itu memang diusulkan langsung dari kelompok tani serta aparat desa di daerah tersebut. Jadi kami menganggap lahannya sudah tidak ada masalah untuk dilakukan percetakan sawah,” jelas mantan kadis Pertanian yang kini menjabat Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kolaka.

Sangat disayangkan, percetakan sawah yang selama ini sangat diharapkan oleh petani dalam mengembangkan areal lahan pertanian ternyata masih saja mengundang masalah seperti pada program serupa ditahun sebelumnya yang kini tengah bergulir ke proses hukum. (cr3/b/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top