HUKUM KRIMINAL

Pembunuh Pasutri Jepang Akhirnya Menyerahkan Diri

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Denpasar–ak punya duit membuat I Putu Astawa, 25, gelap mata. Dia menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri) asal Jepang, Matsuba Nurio, 73, dan Matsuba Hiroko, 70, pada Minggu (3/9).

Setelah dua pekan berlalu, Astawa akhirnya menyerah. Dia diamankan tim khusus yang tergabung dalam Jatanras Polda Bali, Polresta Denpasar, dan Polsek Kuta Selatan Senin (18/9) sekitar pukul 04.00.

Kapolresta Denpasar Kombespol Hadi Purnomo menyebutkan, sepeda motor pelaku digadaikan Rp 10 juta kepada temannya di kampung halaman, Negara, Jembrana, beberapa bulan lalu.

Karena tidak punya uang untuk menebus motor, pelaku kalap hingga akhirnya muncul niat jahat untuk merampok di sebuah perumahan di kawasan Puri Gading, Jimbaran, Kuta Selatan.

Dari jalan umum, waktu itu pintu rumah tersebut memang terbuka. Memanfaatkan situasi dan kondisi (sikon) yang sepi pagi itu, pelaku langsung masuk.

Setiba di pintu depan (halaman luar), dia melihat pisau di atas rak sepatu. Pisau itulah yang digunakan pria berbadan kekar tersebut sebagai senjata untuk membunuh korban.

Di lantai 2, pelaku melihat Matsuba Hiroko yang membelakanginya. Astawa membekap mulut dan menusuk perut korban.

Karena masih sadar, korban ditusuk lagi di bagian leher hingga tewas tersungkur di lantai.

Saat itu tas korban langsung dibuka. Dia mengambil dompet di dalam tas. Begitu dibuka, di dalamnya ada JPY 11.000.

”Saat membunuh Matsuba Hiroko, suami korban di luar rumah. Dia membawa anjing kesayangan berkeliling,” tutur Hadi.

Astawa yang panik tidak langsung kabur. Saat Matsuba Nurio masuk ke rumah bersama anjing, dia bersembunyi di balik tembok pintu masuk kamar.

Begitu korban kedua muncul, pelaku membekap mulut dan menusuk punggung korban.

Bukan hanya itu, leher korban juga di tusuk, lalu digorok hingga hampir putus.

Setelah melakukan pembunuhan tersebut, Astawa keluar. Sebelumnya, dia membersihkan badan, mencuci kaki dan tangan yang penuh darah di toilet lantai satu. Setelah itu, dia menukar pakaian.

Dalam perjalanan pulang ke Jimbaran sore itu, dia membeli dupa dengan jumlah banyak, korek api, dan air mineral botolan kurang lebih empat botol untuk diisi bensin.

”Bahan-bahan tersebut dibeli pelaku untuk mengelabui aksi itu, biar terkesan layaknya kejadian kebakaran.” (dre/pit/c22/ami/jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top