BERITA UTAMA

Jaksa Selidiki Keterlibatan Tim PHO,  Dalam Kasus Korupsi Gedung Paramedis Konut

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Konawe, Sahrir

KOLAKAPOS, Unaaha — Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat (LSM Lira) mempertanyakan penetapan tersangka kasus korupsi pembangunan gedung paramedis Konawe Utara. Mereke mendatangi kantor kejaksaan Negeri Konawe, dimana penetapan tersangka tersebut diduga Lira Konawe terkesan dipaksakan oleh pihak kejaksaan negeri Unaaha.

Sumantri dalam orasinya, merasa aneh dengan penetapan tersangka kasus korupsi terhadap, Hevid dan Dr. Sariman, sementara kontraktor yang mengerjakan proyek yakni Sainuddin sama sekali tidak ditetapkan tersangka dalam kasus pembuatan gedung paramedis Konawe Utara dengan totoal anggaran Rp 1,5 Milyar.

” Kenapa hanya Hevid dan Dr. Sariman yang di tetapkan tersangka, sementara kontraktor dan konsultan dan tim PHO tidak di tersangkakan,” teriak Sumantri, Rabu (20/12).

Lanjut Sumantri, penetapan tersangka yang dilakukan Kejaksaan Konawe seakan tebang pilih, pasalnya masih ada oknum-oknum lain di balik proyek tersebut yang tidak di bidik kejaksaan. Selain itu Hevid yang sudah di tetapkan sebagai tersangka menurut Sumantir, Hevid hanyalah perantara atau orang ketiga dari proyek tersebut, jika kejaksaan ingin mengungkap kasus ini seharusnya tim PHO juga harus di tetapkan tersangka karena tim ini yang memeriksa kondisi bangunan dan menyerah terimakan atas pekerjaan itu.

” Kami merasa kejaksaan tebang pilih atas kasus ini,” ucapnya.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Konawe, Sahrir, menanggapi hal tersebut menyampaikan, jika penetapan tersangka yang di lakukan penyidik kejaksaan terhadap Hevid dan Dr. Sariman sudah sesuai prosedur dan di perkuat dengan hasil pemeriksaan beberapa saksi.

” Untuk menetapkan tersangka itu harus memiliki minimal 2 alat bukti, nah untuk Hevid sendiri, kami memiliki dua alat bukti berupa cek dan kontrak, atas nama Hevid Saranani hasil ini di perkuat setelah kami (penyidik Red) memeriksa rekening giro di BPD Konut atas nama Hevid, sementara Saunuddin kami tidak temukan,” Kata Sahrir.

Lanjut Sahrir, saat pemeriksaan saksi Hevid Saranani, penyidik menerima keterangan jika kontraktor pekerjaan gedung paramedis itu yakni Sainuddin, namun setelah di lakukan penyelidikan dan meminta kepada Hevid agar Sainuddin ini di hadirikan, penyidik menemukan hal yang janggal dan merasa Hevid memberikan keterangan Palsu, karena Hevid ini tidak bisa menghadirkan satu nama yang di sebutkan saat pemeriksaan, sehingga kejaksaan sendiri yang turun tangan membawa Sainudin ini. Setelah Sainuddin di periksa sebagai saksi ternyata Sainuddin tersebut hanyalah kepala tukang dan bukan kontraktor seperti yang di katakan Hevid.

” Dari semua saksi yang di periksa, hanya Hevid yang mengatakan jika kontraktor pekerjaan ini Sainuddin, tidak ada juga indikasi korupsi yang di temukan untuk Sainuddin ini,” kata Sahrir.

Sementara untuk Dr. Sariman sendiri, tambah Sahrir, indikasi korupsi ditemukan karena Dr. Sariman merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Panitia Pelaksana Kegiatan (PPK).

Tidak menutup kemungkinan dalam kasus kurupsi ini, Kata Kasi Pidsus, akan ada tersangka baru, karena pada dasarnya kasus korupsi itu selalu di lakukan lebih dari 2 orang. ” Tim PHO kita masih dalami, kalau memang ada indikasi korupsi yah kami akan expos lagi untuk menetapkan siapa yang bertanggung jawab semua kegiatan ini, apakah tim PHO ini ikut bertanggung jawab atau tidak,?,” tutup Sahrir.(m4)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top