KONAWE

Ada Tendensi Politik Dalam Pembagian Lods Pasar Sampara?

Salah satu pedagang di Pasar Sampara, Jamal.

KOLAKAPOS, Unaaha–Pasar Kapita Lau Dalami di kecamatan Sampara, Konawe, yang sempat bermasalah karena adanya korupsi dalam pembangunannya, kini siap dimanfaatkan oleh pedagang. Pasar tradisional modern tersebut diresmikan oleh Ketua DPRD Konawe, Gusli Topan Sabara, Rabu (24/1) lalu.
Meski telah diresmikan, ternyata dibalik pembagian lods pasar tersebut disinyalir terselip kepentingan politik dalam pembagianya. Hal tersebut dialami Jamal, salah satu pedagang yang telah lama menggantungkan hidupnya dari berjualan sembako di pasar itu.
Jamal yang sudah belasan tahun berjualan di pasar Aampara bahkan sebelum pasar itu dirubah menjadi pasar tradisional modern, sangat kecewa kepada pengelola pasar saat pembagian lot lods pasar. Pasalnya, saat penarikan lods namanya tidak terlampir dalam daftar pedagang di pasar tersebut.
Anehnya lagi, kata Jamal, warga yang tidak pernah berdagang di pasar itu malah mendapat lods, sementara dia yang sudah lama berjualan malah tidak dapat tempat. Dia mengakui jika pembagian lods pasar ini ada diskriminasi oleh pihak pengelola, karena dirinya diketahui mendukung salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati Konawe, yang berseberangan dengan pengelola lods.
“Saya kecewa, saya sudah berjualan di sini (pasar Sampara, red) sejak 2002. Saya juga ditahu kalau saya dukung pasangan Berlian Murni, mungkin karena itu sampe saya tidak dikasih lods kemarin,” kesal Jamal.
Tidak terima dengan pembagian lods karena tidak mendapat tempat, lantas Jamal lakukan protes kepada pengelola pasar dan mendatangi pemerintah kecamatan Sampara, untuk menanyakan apa yang penyebab sehingga dirinya tidak diberikan lods, namun protes itu tidak digubris oleh pengelola pasar.
“Saya sempat mengamuk di pasar, soalnya saya dapat undangan tapi saat pengambilan lot saya tidak diikutkan katanya karena saya datang terlambat, habis saya mengamuk saya langsung pulang. Ada beberapa menit datang petugas pasar bawakan kunci lods, tapi saya tidak tahu dimana lodsnya karena cuma kunci saja yang saya dikasih,” tutur Jamal.
Ia juga menyampaikan, bingung dengan pengelola pasar bahkan pemerintah kecamatan Sampara, karena adanya orang yang tidak pernah berdagang tapi dapat tempat, dia juga menduga lods yang berada di depan akan dikomersilkan karena sampai saat ini dirinya tidak mengetahui siapa yang akan menempati posisi lods yang diakui Jamal sangat strategis itu.
“Itu Wahid, Tono dan Baber mereka bukan pedagang pasar. Dia tidak pernah menjual di pasar tetapi dapat lods hanya karena orangnya KSK (Kery Saiful Konggoasa, red). Lods depan juga, saya tidak tahu siapa yang punya, kita mungkin dikasi ini di ujung kan ada sekitar 150an lods,” bebernya.
Terakhir Jamal menuturkan, di pasar lama dirinya diberi dua lapak tempat untuk menjual. Sejatinya, ketika pasar Kapita Lau Dalami difungsikan dirinya pun berharap mendapatkan dua lods untuk tempat menjual dan menampung barang dagangannya, karena pedagang sembako memiliki jumlah barang yang cukup banyak saat menggelar dagangannya.
“Seharusnya saya dapat dua lods karena saya sudah lama berjualan dan memiliki barang banyak, kita inikan grosir. Harusnya jangan karena saya ditahu dukung Berlian Murni saya tidak bisa dapat lods. Sementara yang lain ada yang dapat dua lods. Nanti pi saya habis mengamuk baru diantarkan kunci ke rumah itupun cuma satu lods,” tutup warga kelurahan Sampara ini.(m4/c)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top