HUKUM KRIMINAL

Eks Wakapolda Tewas, Anjing Pelacak Berhenti di Parkiran

Net/ilustrasi

KOLAKAPOS, Malang–Mantan Wakapolda Sumut, Kombespol (Purn) Agus Samad,71, ditemukan tewas di belakang rumahnya Perum Bukit Dieng Permai Blok MB 9, Kecamatan Sukun, Kota Malang, jatim, Sabtu (24/2).

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, penemuan mayat korban ini bermula ketika Suhartutik, istri korban, menelepon Rahmad, tetangganya. Suhartutik meminta Rahmad untuk membuka rumahnya. Dikarenakan, ia sedang berada di Bali.

Sedangkan sang suami, seminggu ini sendirian di rumah. Mendapatkan kabar tersebut, Rahmad dan Irma, tetangga korban itu meminta bantuan Gunaryo dan Yadi. Mereka merupakan satpam sekitar kompleks perumahan tersebut.

“Saya diminta membuka rumah bapak Agus (korban,red),” terang Gunaryo saat ditemui Jawa Pos Radar Malang.

Sekitar pukul 08.30, satpam itu pun membuka pagar yang tidak digembok. Akan tetapi, pintu rumah korban tertutup rapat dan terkunci.

Terpaksa, lanjut Gunaryo, bersama Yadi mendobrak pintu kayu itu dengan disaksikan Irma dan Rahmad di pagar rumah.

Ia melihat rumah dengan kondisi kosong. Namun setelah masuk ke ruang makan, Gunaryo terkejut melihat lantai dalam kondisi bersimbah darah.

“Banyak sekali darahnya, tapi sudah agak kering,” imbuh Gunaryo. Tak hanya itu, ia dua petugas satpam ini melihat pintu menuju taman belakang rumah sudah terbuka.
Yang mengejutkan, Agus ditemukan sudah tidak bernyawa. Dengan posisi miring ke kiri. Bahkan, kedua tangannya ada bekas sayatan. Dan kaki kanan korban terjerat tali rafia hitam.

Sedangkan di atasnya, ditemukan juga tali rafia yang menggantung dari pagar balkon lantai tiga. “Pas tahu itu, saya langsung keluar, bilang ke ibu-ibu tadi keadaan bapak,” kata pria bertopi hitam ini.

Mendapati kondisi seperti ini, kepanikan ini langsung dilaporkan kepada Polsek Sukun dan Satreskrim Polres Malang Kota (Makota).

Petugas yang tiba sekitar pukul 08.45 itu langsung mengamankan tempat kejadian perkara (TKP). Sambil menunggu unit K9 Satreskrim, petugas dari polsek meminta keterangan beberapa saksi mata.

Selain Gunaryo, Yadi, Rahmad, dan Irma, petugas juga bertanya kepada Yongki. Tetangga korban yang sempat masuk ke lokasi.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, Yongki yang tinggal di blok MC 18 itu mengakui ada ibu-ibu yang menangis keras dari depan rumah korban.

Ia mengira ada perselisihan atau pertengkaran. Sehingga ia hendak melerai. Ternyata buka demikian. Yongki pun masuk ke dalam rumah, melihat kondisi korban sudah meninggal dunia.

“Saya kira ada yang bertengkar, jadi saya nyeberang ke depan rumah,” ujar Yongki.
Olah TKP yang dipimpin Kapolresta Malang AKBP Asfuri itu menggunakan unit K9. Seekor anjing itu mengendus beberapa tempat. Petugas menyisir mulai halaman depan sampai ke ruang makan.

Anjing pelacak tersebut menuju ke halaman belakang. Dari belakang, anjing itu kembali ke ruang tengah untuk memutari ruang tamu. Baru keluar menuju ke pojok halaman depan sebelah kanan. Terakhir berhenti di halaman parkir mobil korban.

Ketika dikonfirmasi tentang dugaan pembunuhan ini, Asfuri belum bisa menyimpulkan hal tersebut. Dikarenakan, petugas masih melakukan penyelidikan terhadap kejadian purnawirawan polisi ini.

“Untuk hasil olah TKP di ruang makan itu ditemukan bercak darah. TKP pertama bercak darah dengan korban itu jaraknya sekitar 10 meter, korban berada di halaman belakang. Dengan posisi kaki diikat tali rafia. Kemudian tali rafianya ini diikat di pagar lantai 3,” beber perwira polisi dengan dua melati di pundak ini.

Sekitar 1,5 jam melakukan olah TKP, petugas langsung membawa jenazah ke kamar mayat RS Saiful Anwar.

Asfuri masih enggan apa motif tewasnya lulusan Akademi Polisi (Akpol)1970 tersebut. Ia membenarkan bahwa kedua tangan korban ada bekas sayatan dan memar di kepala sebelah kiri. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top