BERITA UTAMA

Warga Demo PT Sari Asri Rezeki

Aksi Masyarakat Adat Yang Menuntut Ganti Rugi Atas Pengurusakan Pohon Sagu Yang dilakukan oleh PT Sari Asri Rezeki Indonesia Tbk Di Rawa Tinondo

Dituding Rusaki dan Bakar Pohon Sagu di Lalolae

KOLAKAPOS, Tirwauta–Aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan oleh PT Sari Asri Rezeki Indonesia Tbk, yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit di area rawa Tinondo yang merupakan kawasan strategis nasional (KSN) berdasarkan peraturan pemerintah (PP) nomor 26 tahun 2008 mendapat penolakan dari warga setempat. Aksi massa yang mengatasnamakan masyarakat adat melakukan ujuk rasa di depan kantor PT Sari Asri Rezeki Indonesia di kelurahan Lalolae, kecamatan Lalolae Rabu (28/2).
Koordinator aksi Jabir Lahukuwi mengatakan, aksi masyarakat adat merupakan bentuk protes atas apa yang telah dilakukan perusahaan sawit melakukan pengrusakan dan pembakaran area pohon sagu, yang mencapai ribuan hektar di area rawa Tinondo. ” Gerakan masyarakat adat merupakan gerakan awal terhadap PT Sari Asri Rezeki Indonesia atas pengrusakan lahan sagu milik warga adat dirawa Tinondo yang luasnya mencapai tiga ribu hektar ” ungkapnya
Seharusnya kata, anggota Walhi Sultra ini, pihak perusahaan tidak langsung melakukan pembakaran sebelum ada izin dari masyarakat adat, apalagi pohon sagu merupakan tanaman asli dan merupakan makanan pokok kita sebagai warga lokal, tiba-tiba dibakar begitu saja. Selain itu area yang dibuka oleh pihak perusahaan merupakan kawasan strategis nasional yang tidak bisa dilakukan aktivitas dilokasi tersebut. ” Permasalahan kenapa langsung dibakar dan dihabiskan pohon sagu tersebut. Padahal rawa Tinondo masuk dalam lokasi KSN berdasarkan peraturan pemerintah nomor 26 tahun 2008, yang statusnya sama dengan rawa Opa Watumohai di Konsel, itu tidak bisa diolah ” jelasnya.
Apalagi, kata ketua FORSDA Sultra ini, menilai ganti rugi lahan yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan tidak tepat sasaran, sebab masyarakat adat selaku pewaris yang memiliki hak atas lahan tersebut tidak mendapatkan ganti rugi lahan tersebut. Ini dikarenakan permainan yang dilakukan oleh camat Tinondo Bastian selaku pemerintah setempat. ” Intinya pewaris menuntut pohon sagu yang dirusak ” tegasnya.
Untuk itu, Jabir meminta kepada Pemda Koltim agar menghentikan aktivitas PT Sari Asri Rezeki Indonesia karena legalitasnya tidak sah, karena masuk dalam kawasan strategis nasional. Dan pihaknya mengancam akan menduduki lahan tersebut jika Pemda Koltim tidak merespon tuntutan warga. ” Ini gerakan awal dan kami beri waktu tiga hari, jika tidak keputusan untuk dilakukan pertemuan antara pemerintah dan perusahaan maka kami akan menduduki lahan yang sudah dirusak ” pintanya. (K9/c/hen).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top