BERITA UTAMA

BRI Unit Kolaka Hilangkan Agunan Nasabah?

Nurdisa saat memperlihatkan foto copy sertifikat tanah agunan bank. Sertifikat asli milik Nurdisa kini diklaim telah raib "di tangan" BRI Unit Kolaka.FOTO:Kaulia Akansoro/Kolaka Pos

KOLAKAPOS, Kolaka–Nurdisa, warga Kelurahan Mangolo, Kecamatan Latambaga, Kolaka merasa “dipermainkan” dengan pihak Bank Republik Indonesia (BRI) unit Kolaka. Bagaimana tidak, wanita yang mengaku pernah menjadi nasabah bank plat merah itu, mengaku telah melunasi kredit pinjaman di bank tersebut namun hingga kini belum mendapatkan sertifikat tanah yang menjadi agunannya.

Ceritanya, pada tahun 2007 silam, Nurdisa mengajukan pinjaman kredit di BRI unit Kolaka dengan jumlah Rp10 juta. Wanita yang saat itu baru menikah dengan Yudin, mengajukan pinjaman ke BRI untuk modal usaha. Namun saat itu ia tak punya agunan untuk dipegang BRI. Lalu, oleh salah seorang marketing BRI, ia diminta untuk mengagunkan sertifikat tanah yang masih atas nama orang tua Nurdisa. Dengan adanya agunan itu, persyaratan pengajuan pinjaman dinyatakan lengkap sehingga Nurdisa diberi pinjaman sebanyak Rp10 juta dengan kewajiban membayar angsuran sebesar Rp620 ribu perbulan dengan tenor dua tahun.

Pada perjalanannya, pembayaran Nurdisa mulai tertunggak memasuki bulan kelima. Saat itu ia mengaku usaha dagangnya goyah, tak lama kemudian gulung tikar. Tak ingin berdiam diri, ibu tiga anak ini pun akhirnya memutuskan kerja keluar daerah. “Kebetulan ada keluarga di Kalimantan yang panggil kerja, jadi waktu itu saya kesana,” ujarnya kemarin (17/4).

Lima tahun merantau, Nurdisa akhirnya pulang ke Kolaka. Kepulangannya disambut tagihan dari BRI. “Pegawai BRI datang mempertanyakan tunggakan pembayaran angsuran kredit saya. Saat itu saya diberi waktu beberapa hari. Sekitar satu minggu akhirnya saya bayar Rp5 juta, sisanya saya cicil lagi,” kenang Nurdisa sambil memperlihatkan bukti pembayarannya.

Masih menurut cerita Nurdisa, sisa angsuran itu tak lagi mandeg dibayar. Hingga pada pertengahan tahun 2013, tunggakan angsuran pun lunas. Nurdisa kini mengklaim telah bebas dari penagih bank. Nah, ketika kewajiban ibu tiga anak telah gugur, iapun meminta sertifikat yang dulunya dijaminkan ke BRI. Dari situlah masalah muncul. Terhitung lima tahun sejak 2013 hingga saat ini, BRI belum mengembalikan sertifikat tanah milik Nurdisa yang diagunkan.”Inilah masalahku sekarang kasian, sudah lima tahun lebih sertifikat itu saya minta tapi belum dikasih sama BRI. Alasannya banyak,” ucapnya. “Sudah berkali-kali saya datang ke BRI minta sertifikat jaminanku tapi sampai saat ini saya dijanji-janji terus. Padahal sudah lunas kasian kreditku,” imbuhnya.

Menurutnya, sudah lebih dari 10 kali menagih janji BRI, namun jawaban yang didapatkan tetap sama, tunggu dan sabar masih dalam proses. Staf BRI sempat mengatakan kepada Nurdisa sertifikat yang diagunkan tersebut telah diambil oleh mantan suaminya (Nurdisa bercerai dengan suaminya, Yudin, red). Untuk mengeceknya, Nurdisa menelepon Yudin untuk memastikan. Namun, Yudin justru kaget dan membantah tudingan tersebut. “Malah kemarin (16/4), saya dengan mantan suamiku sama-sama datang ke BRI untuk pastikan kalau dia tidak mengambil sertifikat itu. Setelah dicek memang betul, dia tidak ambil. Yang saya tidak terima pegawai BRI bilang kalau sertifikat itu telah hilang,” ujar Nurdisa dengan nada kesal.

Staf BRI berjanji akan mengganti kehilangan sertifikat tanah itu, dengan mengurus ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Untuk memastikan sertifikatnya telah diurus sesuai pernyataan staf BRI, Nurdisa mendatangi BPN Kolaka. “Tadi saya cek di Pertanahan, tapi kata pegawai pertanahan kalau mau cek itu harus ada nomor pendaftaran. Akhirnya tadi juga saya telepon orang bank tapi dia bilang, kalau ibu mau urus sendiri itu butuh biaya banyak, padahal saya cuma pastikan apakah sudah diurus disana atau hanya dijanji-janji lagi kasian,” katanya. “Saya capek dijanji terus kasian, suadara-saudara saya sudah mendesak minta sertifikat itu karena lahan orang tua kami yang tertera dalam sertifikat itu mau dibangunmi kasian,” tambah Nurdisa, dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, pimpinan BRI Unit Kolaka yang coba dikonfirmasi di kantornya belum bisa memberikan klarifikasi. “Pimpinan lagi keluar, kalau mau nanti sebentar baru kita datang lagi,” ujar salah seorang petugas bank yang terletak di jalan Pemuda KM 2, Kolaka.

Ketika diminta nomor telepon pimpinannya, pegawai tersebut enggan memberikan ke awak media. Untuk memudahkan konfirmasi, wartawan media ini menitip nomor telepon kepada petugas dengan harapan pimpinan BRI menelepon untuk memberikan keterangan. Sayangnya, hingga berita ini ditulis pukul 21.00 Wita malam tadi, belum ada konfirmasi dari pimpinan BRI Unit Kolaka. (kal/c)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top