MUNA

Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Muna : Pendidikan Kebudayaan Muna Tinggal Dilanjutkan dan Modifikasi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muna, Ashar Dulu.

KOLAKAPOS, Raha–Untuk mempertahakan eksistensi kebudayaan lokal kabupaten Muna, maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muna, telah memasukkan materi Pendidikan Budaya Muna ke dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal tersebut dikatakan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Muna, Ashar Dulu pada media ini saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/7).
Menurutnya, kurikulum Pendidikan Budaya Muna sudah sejak lama dimasukkan ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok). “Pendidikan Kebudayaan Muna ini sudah dilakukan sejak lama dan kita tinggal melanjutkan dan memodifikasi saja,” ujarnya.
Adapun materi pembelajaran Mulok tersebut kata Asar Dulu, yakni peserta didik diajarkan mengolah kerajinan sarung tenun, membuat tudung makanan dari tanaman Nentu. Sementara untuk peserta didik yang bermukim di wilayah pesisir pantai akan diberi materi proses penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem laut.
“Tidak bisa se kabupaten Muna Muloknya harus menenun semua, itu tidak bisa. Orang di pinggir pantai tidak bisa diajarkan menenun, tetapi mereka harus diajarkan cara menangkap ikan yang ramah dengan lingkungan pesisir seperti tidak boleh menggunakan bom, merusak bakau dan terumbu karang,” katanya.
Lebih lanjut Ia mengatakan, memasuki ajaran baru 2018-2019 ini, peserta didik akan diwajibkan menggunakan seragam batik bercorak tenun Muna. Sementara untuk kegiatan tari-tarian tradisional akan diajarkan melalui kegiatan ekstra kulikuler. “Guru-guru mengajarkan menari Kabanti, Kantola, Ewa Wuna dan Rambi Wuna, itu semua ada di ekstra kulikuler,” cetusnya.
Sementara tradisi ritual masyarakat Muna, tegas Asar Dulu, hal tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. “Kalau tradisi ritual sebenarnya tidak terlalu pas kita ajarkan di SD dan SMP, misalnya tata cara mengelola kebun, tata cara prosesi pernikahan itu tidak bisa. Itu terlalu dini kalau kita perkenalkan. Tetapi bahwa, pada konteks-konteks perilaku itu kita perkenalkan,” tandasnya. (m1/c)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top