KOLAKA TIMUR

Ratusan Hektar Sawah di Lalolae Masih Tergenang Banjir

Ratusan hektar sawah di kecamatan Lalolae masih digenangi air aikbat banjir yang terjadi Sabtu lalu.FOTO: Neno/Kolaka Pos

KOLAKAPOS, Tirwauta — Ratusan hektar sawah yang terletak di tiga desa di kecamatan Lalolae yakni desa Talodo, Lalosingi dan Kesio terancam gagal panen, akibat banjir yang meninpa sejak Sabtu lalu. Akibatnya tanaman padi yang baru berusia satu bulan sudah mulai layu.

Salah satu petani desa Lalosingi Sakka mengaku, jika banjir kali ini cukup dahsyat jika dibandingkan dengan banjir sebelumnya yang sering terjadi, sebab ketinggian banjir mencapai satu meter sampai dua meter, sehingga sawah miliknya dan petani lain masih digenangi air, akibatnya tanaman padi miliknya terancam gagal panen. Sebab padi sudah mulai menguning akibat terlalu lama digenangi air.

“Kalau padi sudah tenggelam padi pasti mati dan harus diganti, apalagi airnya belum surut awalnya satu meter dan sekarang tinggal setengah meter,” ungkapnya saat ditemui media ini.

Anehnya sampai saat ini kata Sakka, pihak terkait belum datang meninjau secara langsung kondisi persawahan warga. Sehingga Sakka berharap agar pemerintah dapat meninjau langsung kondisi persawahan milik petani, agar petani dapat diberi bantuan sehingga petani tidak mengalami kerugian yang cukup besar. “Kami berharap pemerintah dapat kesini melihat langsung, agar kami bisa dibantu,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala desa (Kades) Lalosingi Muhammad Yunus, mengakui jika lahan persawahan yang ada di wilayahnya ikut terkena dampak banjir, mengakibatkan rarusan hektar sawah terancam gagal panen. Namun pihaknya akan segera mendata dan melaporkan musibah ini agar pemerintah dapat memberikan bantuannya, sebab tanaman padi warga terancam mati.

“Kalau untuk di wilayah kami, sekitar 200 hektar yang terkena banjir dan kami akan segera laporkan ke dinas pertanian Koltim,” katanya.
Menurut Yunus, banjir diakibatkan karena bahu sungai yang mulai menyempit, sehingga air mengalami penyumbatan dan tak mampu untuk mengalir secara leluasa.

“Salah satu faktor musibah banjir terjadi akibat sungai mulai mendangkal, sehingga diperlukan untuk dilakukannya normalisasi sungai sepanjang bantaran sungai yang melewati beberapa desa di kecamatan Lalolae. Jika tidak dilakukan normalisasi sungai kami khawatir jika hujan turun lagi, maka tidak menutup kemungkinan area persawahan warga akan kembali tergenang, akibat sungai yang meluap,” tutupnya. (k9/b)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top