METRO KOLAKA

Sepi Pembeli, Pedagang Bendera Merah Putih Merugi

Delawahyuddin (40) pedagang bendera di depan Kantor Kelurahan Lamokato, Kolaka. Foto La inga Kolaka Pos

KOLAKAPOS, KOLAKA—Dalam memperingati perayaan HUT RI ke-73. Atribut merah putih mulai tampak di berbagai tempat di Kabupaten Kolaka. Mulai di gedung pemerintahan, hotel, perusahaan, rumah warga hingga pusat perbelanjaan bahkan ke kawasan pedesaan telah memasang pernak-pernik kemerdekaan itu. Meski demikian, ternyata tidak berdampak terhadap penjual musiman pernak-pernik kemerdekaan RI ke 73 yang ada di bumi mekongga itu. Karena, untuk penjualan telah mengalami penurunan drastis atau cenderung kurang bergairah.

Delawahyuddin (40) misalnya. Penjual bendera yang berada di kawasan perempatan menuju pasar raya mekongga tepatnya di depan kantor kelurahan Lamokato Kecamatan Kolaka ini mengaku mengalami penurunan. Hal itu katanya, bukan baru dirasakan. Namun pasca membuka dagangannya pada 23 Juli lalu telah sepi pembeli.

“Sampai saat ini. Saya baru laku sekitar 70 lembar. Dan uang yang saya setor baru Rp, 1,5 juta rupiah. Beda dengan tahun lalu, yang laku saya semuanya sekitar 128 lembar. Saya setor Rp, 9 juta rupiah. Upah tahun lalu sekitar Rp, 3 juta rupiah. Kalau tahun ini, yah tidak tau berapa ini akan dikasi,” ungkapnya, Minggu (12/8).

Pria asal Garut Jawa Barat ini mengaku, dirinya menjual pernah-pernik kemerdekaan RI di Kabupaten Kolaka bukan untuk pertama kalinya. Namun sudah hampir setiap tahun dilakukan. Selain itu katanya, yang berasal dari pulau jawa tidak hanya sendirian, tetapi mencapai puluhan orang dan tersebar di beberapa Kabupaten dan Kota lainnya. “Untuk wilayah Sultra, bisa mencapai 90 orang. Itu tersebar. Ada yang di Kota Kendari, Bombana, Buton, Kolaka serta kabupaten dan Kota lainnya di Sultra. Pokoknya, kami tersebar dan hanya mendapatkan upah. Karena, ada yang pemilik modal,” tuturnya.

Ia juga mengaku, dengan kondisi seperti saat ini, pendapatannya tiap hari tidak menentu. Sebab, kadang ada pembeli dan kadang pula tidak ada sama sekali pembeli. Padahal katanya, dirinya mulai berjualan sejak pagi hingga selesai shalat Isya baru berkemas menutup jualannya. “Untuk hari ini, saya baru laku Rp, 240 ribu rupiah. Kemarin tidak ada pembeli. Kalau tahun lalu, sehari bisa laku Rp, 800 ribu rupiah. Tapi, itu tidak menentu juga. Yang jelas, pembeli bendera tahun ini mengalami penurunan. Tidak seperti tahun lalu,” jelasnya.

Untuk jenis Umbul-umbul, Delawahyuddin menjulnya berfariasi. Yakni, ada yang Rp.30.000 rupiah perlembarnya. Dan ada pula Rp. 50.000 rupiah perlembar. Harga ini, sama dengan untuk bendera merah putih. Karena, tergantung lebarnya. Sementara untuk baground garuda atau hanya warna merah putih dengan panjang 10 meter dibadrol dengan harga Rp. 300. 000 rupiah hingga Rp. 400.000 rupiah perlembarnya.

Pedagang bendera dan atribut merah putih lainnya mengaku, jika menjelang perayaan hari kemerdekaan tahun ini, omset dagangan mereka menurun drastis. Untung, salah seorang penjual mengaku pembeli jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ya, menurut saya mah turun. Ada lah 50 persen omset turun. Yang beli ada tapi nggak ramai kayak dulu,” ungkapnya diwaktu yang sama dan lokasi yang beda.

Untung menambahkan, kemungkinan sedikitnya pembeli tahun ini karena masih memiliki bendera dan atribut, sehingga menurutnya, mereka pun memutuskan memakai yang sudah ada. “Ya mungkin mereka lebih milih pakai yang lama. Saya pikir tahun ini penjualan tinggi karena ada Asian Games sama mau Pilpres. Tapi ternyata enggak, justru turun. Padahal saya sudah dagang lebih awal dibanding tahun lalu,” tutupnya. (ing/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top