MUNA

Dua Anak Pasutri Tunanetra di Muna Akhirnya Mampu Melihat

KOLAKAPOS, Raha — Masih ingat pasangan suami istri (Pasutri) penderita tunanetra, warga Jalan Gatot Subroto, lorong Koperasi Kelurahan Batalaiworu, kecamatan Katobu kabupaten Muna, Safiudin (27) dan Harnia (25) yang membutuhkan bantuan biaya untuk melakukan operasi mata terhadap dua orang buah hatinya yakni Anisa (3) dan Muhamad Rijal (1) pada Juli 2017 silam? Alhamdulillah, kini dua balita tersebut sudah bisa memandangi terangnya dunia meskipun keduanya masih menggunakan bantuan kacamata minus.

Pasangan tunanetra ini Safiuddin dan Harnia mengungkapkan, kedua anaknya tersebut menjalani operasi pengangkatan katarak pada waktu yang berbdeda yakni Annisa lebih dahulu menjalani operasi pengangkatan katarak dan penanaman lensa pada Oktober 2017, kemudian menyusul Rizal menjalani operasi pengangkatan katarak pada Septembet 2018. ” Kami sangat berterima kasih kepada para donatur yang telah memberi donasi untuk biaya pengobatan kedua anak kami. Terkhusus kepada bapak Bupati Muna dan ibu, bapak Kapolres Muna, ibu ketua dan pengurus Bhayangkari, ibu ketua dan pengurus Persit, alumni SMAN 1 Raha angkatan 2008, dan seluruh donatur yang tak bisa saya sebutkan satu persatu, termasuk para jurnalis yang membantu mempublikasikan berita tentang anak kami. Semoga selalu diberi kesehatan, umur panjang dan dimudahkan segala urusannya,” kata Safiuddin

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang pijat keliling ini mengungkapkan, bantuan donatur yang masuk dalam rekeningnya untuk digunakan sebagai biaya operasi kedua anaknya itu sekitar Rp37juta. Kendatipun dua orang anaknya itu telah menjalani operasi, namun keduanya diwajibkan untuk melakukan kontrol perawatan lanjutan. “Rizal masih harus menjalani operasi kedua kalinya yakni penanaman lensa pada kedua bola matanya, setelah ia dinyatakan cukup umur untuk penenaman lensa. Anisa sekarang masih menggunakan kacamata obat dari dokter. Dia harus kontrol setiap enam bulan sekali di Makassar. Tapi karena keterbatasan anggaran, kami belum kontrol lagi ke Makassar. Kita kontrol di dokter mata di Raha saja dulu, sambil mencari untuk biaya pengobatan Nisa,” ucapnya

Safiuddin kembali mengisahkan, bahwa penyakit kedua anaknya merupakan penyakit bawaan (genetik. Red), dimana semakin hari kataraknya makin parah. “Kami tahu kalau Nissa mengidap katarak ketika ada tetangga yang bilang, anak kami mulai lain-lain melihat. Setelah tiga kali dikasi tahu sama tetangga, kemudian saya bawa anak saya di polli mata. Hasilnya, anak kami mengidap katarak bawaan dan harus segera dioperasi. Kemudian dokter juga meminta adik Nissa datang periksa mata, ternyata adiknya (Rizal.red) sama penyakitnya dengan kakanya, dan harus segera diperasi agar tidak buta,”. tandasnya (m1/c/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top