MUNA

Muh Amir Saban, SP, Untuk Legislatif Yang Amanah

KOLAKAPOS, Raha — Muh Amir Saban, SP atau yang lebih dikenal dengan Amir Fariki adalah salah satu tokoh pemuda Muna, yang namanya sudah tidak asing lagi dalam dunia politik dan pergerakan, baik sejak bergelut dalam dunia kampus maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Pria kelahiran Raha, 15 Juni 1981 ini banyak berkecimpung dalam dunia sosial dimana salah satunya dan hingga kini masih aktif sebagai ketua Koalisi Masyarakat Pemerhati Hukum Sulawesi Tenggara (KMPH-SULTRA).

Koalisi yang dipimpinnya itu merupakan lembaga yang tergabung dari beberapa unsur-unsur pemuda dari berbagai kalangan yang memiliki komitmen tinggi terhadap soal-soal kebijakan pemerintahan dan penegakan supremasi hukum.
Menurut Amir, Keterlibatannya dalam organisasi tersebut disebabkan oleh berbagai macam aspek, diantaranya adalah yang pertama ;

Aspek sosial kemasyarakatan. Dia memandang, hampir setiap saat masyarakat baik itu pedagang, wiraswasta, buruh, nelayan, petani serta berbagai macam profesi lainnya merupakan bagian terpenting dalam sistem demokrasi. Namun, sering kali ditemui hak-hak mereka terabaikan oleh kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak misalnya soal lapangan kerja, soal kemiskinan, soal kenaikan biaya sekolah, soal mahalnya harga-harga, soal biaya kesehatan dan lain-lain. Hal tersebut menjadi pemendangan sehari-hari dan sampai saat ini masih menjadi sebuah momok. Disisi lain, pemerintahan adalah sebuah kekuasaan kebijakan yang berfungsi sebagai pelayan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang seharusnya melakukan upaya-upaya aktif dalam rangka pemenuhan hak-hak masyarakat tehadap berbagai macam persoalan tersebut, namun kadang kala saat pemerintah mengeluarkan kebijakan, masih saja terjadi sebuah “disharmonisasi” antara kebijakan pemerintah itu dan pemenuhan hak-hak masyarakat. Sehingga disinilah letak pentingnya peran-peran pemuda dalam kelembagaan sebagai penyambung aspirasi agar tidak terjadi disparitas kebijakan yang berkepanjangan.

Kata Amir, jika hal tersebut terabaikan maka salah satu implikasinya adalah hilangnya kepercayaan publik tehadap pemerintahan yang selanjutnya akan berefek pada berbagai macam pergesekan nilai-nilai sosial yang terjadi.
Kedua, Aspek hukum. Dalam aspek ini, Amir memendang, sebagai negara hukum, wajib hukumnya masyarakat menjunjung tinggi proses penegakan hukum dan menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi di negara ini. Artinya bahwa pada aspek penegakan hukum masyarakat wajib menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan “equality before the low” yakni perlakuan yang sama di depan hukum. Dalam kata lain, tidak ada yang boleh membeda-bedakan siapapun di depan hukum baik dia pejabat maupun rakyat biasa. Jika masih terjadi pengkotak-kotakan dalam konteks penegakan hukum, maka bisa berimplikasi pada runtuhnya penegakan hukum itu sendiri dan rakyat menjadi tidak percaya pada aparat penegak hukum. Ketiga ; sabagai wujud penghambaan manusia kapada Allah SWT dalam kehidupan sosial,
Amir mengatakan, manusia sabagai khalifah di muka bumi, maka wajib kiranya untuk menerapkan prinsip-prinsip keadilan sebagaimana dalam firman-firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an, banyak dijumpai perintah-perintahNya kepada orang-orang yang beriman supaya menjadi penegak keadilan di antaranya Surah An-Nisa Ayat 135 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah SWT walaupun terhadap dirimu sendiri atau Ibu, Bapak dan kaum Kerabatmu. Jika Ia, kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemasalahatannya. Maka jaganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau dengan mejadi saksi, maka sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui Segala apa yang kamu lakukan”.
“Sedikitnya dari ketiga fenomena itu dan tentunya masih banyak lagi persoalan lainnya yang sering kita temui di tengah masyarakat. Tentu hal tersebut yang menjadikan motivasi saya untuk mendeklarasikan salah satu elemen gerak pemuda dari berbagai sektor yang memiliki komitmen terhadap daerah, bangsa dan negara dan menjadi garda terdepan dalam upaya-upaya menyelesaikan berbagai macam problematika bangsa saat ini, walaupun itu dengan berbagai macam dinamika yang sering dihadapi masyarakat namun tidak menyurutkan langkah-langkah kami untuk senantiasa berjuang di tengah-tengah rakyat,” ucapnya.

Lebih lanjut Amir mengatakan, pemuda dalam setiap fase perubahan sejarah selalu menjadi garda terdepan bahkan dimasa-masa penjajahan kolonial yang dikenal dengan masa-masa pergerakan nasional. “Kita tentu banyak mengenal berbagai tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan yang degan semangatnya yang menggelora tanpa pamrih mempertaruhkan nyawa demi terbebasnya bangsa ini dari penjajahan. Padahal ketika itu baru sebagian kecil dari kaum pemuda yang mengenyam pendidikan serta terbatasnya fasilitas dan sarana namun tidak menggoyahkan perjuangan dan cita-cita kaum pemuda dalam merebut kemerdekaan. Alhasil apa yang menjadi niat tulus dan suci akhirnya berhasil mengusir penjajah dari bumi ibu pertiwi,” ucapnya.

Selanjutnya, dalam fase perubahan kata Amir, dari orde lama ke orde baru dan orde baru ke reformasi, sejarah telah mencatat bahwa kaum muda senantiasa menjadi motor penggerak perubahan. Kini, dengan semakin banyak kaum muda terpelajar dan kecanggihan tekhnologi, justru semangat kaum muda dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan juga mulai tergerus oleh perpecahan-perpecahan. “Dimana-mana, kita terus terjebak oleh perbedaan-perbedaan yang tidak mendasar yang kemudian selalu menjadi alasan untuk mempertahankan perbedaan. Padahal semangat kita sama, keinginan kita sama bagaimana menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan mandiri dalam segala bidang. Perbedaan harusnya menjadi sebuah kekuatan kita dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan,” ucapnya

Amir menilai, arus serangan neokolonialisme melalui program liberalisasi di semua sektor serta maraknya praktek-praktek korupsi di bangsa ini, maka hal tersebut menjadi sebuah penyakit yang semakin akut. “Perpecahan-perpecahan yang terjadi dimana-mana atas nama suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) menjadi tontonan sehari-hari. Jika hal tersebut terjadi di negara kita maka hal itu menjadi tertawaan bangsa-bangsa luar, karena tanpa sadar kita berhasil di pecah belah oleh interest dunia luar. Olehnya itu, mari kita bersatu karena sejarah juga pernah mencatat walaupun hanya bermodal senjata bambu runcing kita mampu mengusir penjajah dari bumi pertiwi, kita memiliki aset sumber daya alam yang begitu besar yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, kita memiliki berbagai corak kultur baik suku, agama, kebudayaan serta kekayaan-kekayaan lainnya yang tidak dmiliki oleh bangsa lain,” ucapnya.

Amir mengajak seluruh masyarakat supaya dengan kekayaan yang dimiliki Indonesia khususnya kabupaten Muna, maka kesejahteraan bukan lagi sekedar menjadi mimpi hingga menjadi jargon dalam momentum-momentum politik tertentu. “Saatnya kaum muda sadar dan tahu akan kondisi-kondisi ini dan kita jagan senantiasa memupuk kesadaran semu dibenak pemuda karena degan itu sama halnya dengan membiarkan kemiskinan semakin merajalela dan saatnya kaum muda bersatu demi untuk perubahan dan perbaikan nasib bangsa ke depan. Tidak bisa tidak, karena hanya pemuda lah yang masih memiliki komitmen terhadap perbaikan bangsa ini dan sejarah juga telah mencatat itu, kita ingin agar perubahan dan perbaikan bukan sekedar mejadi lips service semata oleh penguasa saat ini dan kita ingin agar pemuda yang “amanah” yang seharusnya menjadi tonggak perbaikan nasib bangsa ke depan. Jadi, saatnya kaum muda mengisi segmen-segmen penting dalam pengambilan kebijakan daerah, bangsa dan negara dan saatnya pula kita pilih wakil-wakil kita yang benar-benar memiliki niatan suci demi untuk perubahan dan kebaikan bangsa ke depan,” pintahnya. (m1/b)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top