METRO KOLAKA

Anis Pamma Sarankan Budidaya Rumput Laut Terus Dimajukan

KOLAKAPOS, Kolaka – Anggota Fraksi Partai Golkar, Anis Pamma menyatakan bahwa beberapa tahun terakhir ini produksi rumput laut di Kolaka menurun. Dia menguraikan berdasarkan hasil monitoring lapangan terdapat beberapa faktor penyebab produksi rumput laut di Kolaka menurun, yaitu faktor lingkungan dan keterbatasan akses pasar.
“Saya kira faktor lingkungan ini disebabkan oleh terganggunya kejernihan air laut di wilayah pesisir sebagai dampak dari dari penggalian nikel ore yang pernah booming di tahun 2012,” papar nya (13/12).
Sehingga kata Anis, penyakit menyerang dan perlahan-lahan dan nelayan kecil meninggalkan rumput laut dan beralih ke alternatif lain sebagai mata pencaharian.” Namun hasil kunjungan reses kami beberapa waktu lalu, masyarakat mulai kembali ingin membudidayakan rumput laut dan meminta agar Pemda memberikan bantuan sarana budidaya rumput laut. Hal ini disampaikan oleh warga Warga Desa Puu Lawulo dan Kelurahan Induha,” ungkapnya.
Ada pun faktor fluktuasi harga rumput laut, lanjutnya, itu adalah efek dari keterbatasan akses pasar dan diversifikasi produk. “Terlihat harganya ini adalah tantangan kita bersama untuk memikirkan hal tersebut. Yang jelas, berdasarkan data yang saya peroleh untuk komoditi rumput laut itu aktual ekspornya tahun 2017 sebesar US$ 168 Juta dan potensi ekspor bisa mencapai US$ 380 Juta. Jadi masih ada ruang yang cukup besar untuk megisi pasar,” terangnya.
Lanjut Anis, untuk potensi pasar sangat besar, sebab Sejauh ini ada tercatat ada 20 negara yang membeli rumput laut Indonesia. “Pembeli terbesar kita adalah China sekitar US$ 127 Juta, ada pun Jepang potensi ekspor ke Jepang sekitar US$ 39 juta namun Indonesia baru mengisi US$ 1,2 juta. Jadi potensi ekspor yang belum kita isi untuk 20 negara yang membutuhkan rumput laut sebesar US$ 220 juta. Itu adalah peluang,” tutur Anis.
Dia juga memaparkan Sulawesi Tenggara adalah salah satu dari 10 penghasil rumput laut di Indonesia dan Kolaka sudah punya brand yang telah terbentuk dari proses panjang, jika budidaya rumput laut ini diabaikan disaat-saat seperti ini, kata Anis lambat laun nama Kolaka hilang dari pasaran. “Para buyer akan beralih ke provinsi lain. Kolaka terkenal dengan varietas euchema cottonii. Apa lagi saat ini sedang dikembangkan sistem kultur jaringan sehingga lebih tahan penyakit dan hasil panennya lebih banyak,” terangnya.(mir/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top