FEATURE

Hj. Maryam, Mitra Binaan Antam yang Sukses Kelola Abon Bandeng

Hj. Maryam (tengah) bersama kepala desa Totobo Muslimin memperlihatkan tempat produksi abon bandeng massipa. FOTO : Nawir/Kolaka Pos

Semangat Hj. Maryam patut ditiru. Ibu rumah tangga ini terus berkreasi hingga mampu membuat olahan abon bandeng massipa (enak). Berbekal kesempatan menjadi mitra binaan PT Antam UBPN Sultra, yang banyak terlibat dalam kegiatan pelatihan-pelatihan. Wajar jika dia kini dipercaya menjadi mentor pengolahan makanan berbahan dasar ikan.

KOLAKA,-

Beberapa hari lalu Kolaka Pos berkesempatan datang ke rumah Hj. Maryam, yang terletak di desa Totobo, kecamatan Pomalaa, kabupaten Kolaka, Sultra. Melihat secara langsung pengolahan abon bandeng massipa yang mengusung tagline “ketagihan tidak ditanggung”.

Niatnya untuk merintis usaha pembuatan abon bandeng, berawal dari ingin mengangkat ciri khas wilayahnya. Hal itu terlihat di sekeliling rumah Maryam, nampak pematang empang milik warga sekitar berjejer rapi. Secara otomatis, bahan baku ikan bandeng untuk pembuatan abon melimpah.

Produk abon berbahan ikan tentunya dalam proses pembuatannya tergolong rumit dan sulit. Proses pembuatan ini meliputi pemilihan ikan yang baik, pembersihan terutama dari kotorannya serta yang paling sulit dan memakan waktu lama yaitu memisahkan daging dengan tulang. Namun, tidak menyurutkan niatnya untuk bisa sukses dan lebih berkembang.

Akan tetapi usaha yang digeluti Maryam saat ini tidak didapat dengan instan. Modal awal yang menjadi penghalang. Akhirnya pada 2014, Ia mencoba memasukan bantuan untuk mendapatkan dana program kemitraan di perusahaan PT Aneka Tambang (Antam) Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Sulawesi Tenggara (Sultra). Modal awal yang didapatinya sejumlah Rp15 juta. Disinilah cikal bakal bisnis Hj. Maryam, hingga bisa dikenal luas seperti sekarang ini.

“Awalnya (jadi mitra binaan Antam, red) saya masukan proposal (bantuan dana program kemitraan, red) dan mulai mengembangkan usaha saya. Tadinya saya hanya kerja sendiri, sekarang bisa mi kasih kerja sepuluh orang,” ujarnya sembari menunjukkan sepuluh jari tangannya.

Menurutnya, banyak manfaat yang diperoleh dengan bermitra bersama Antam. Salah satunya mendapatkan pelatihan-pelatihan untuk pengolahan makanan berbahan ikan. “Berkat pelatihan dari Antam, saya sudah dari Bandung dan Ambon. Jadi manfaatnya banyak sekali, karena selain punya pengalaman saya juga bisa usaha sendiri sampai bisa mengajar orang lain. Baru-baru ini saya diundang di Bone (Sulawesi Selatan, red), saya ajar 20 orang untuk pengolahan makanan berbahan ikan, karena sekarang saya sudah bisa buat kecap ikan, kambu ikan, dendeng ikan dan kerupuk atom,” jelasnya.

Sebelum memasarkan produknya, Maryam terlebih dahulu melakukan survei pasar mulai dari harga, rasa dan kemasan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan apa yang dimilikinya, dalam produksi abon bandeng. Kemudian untuk mempermudah jalur penjualan, Ia telah mengurus izin BPOM, PIRT dan label halal.

Abon bandeng massipa kini semakin laris manis. Terbukti, sudah melalang buana di Kendari, Jakarta bahkan ke negara tetangga Malaysia. Namun, abon bandeng massipa belum diproduksi secara massal, karena Maryam memilih untuk memasarkannya door to door atau sesuai permintaan pelanggan. “Saya sekarang agak terkendala bagian pemasaran, karena bagian pengantaran sekarang lagi tidak ada. Langganan saya banyak di Pasar, alasan saya tidak masukan di Swalayan karena lama prosesnya. Beda kalau kita datangi langsung pelanggan cepat laku biar kita bawa berapa pasti habis, jadi saya suka begitu,” bebernya.

Sekarang rata-rata produksi abon bandeng massipa mencapai 10 kilogram perhari. Tapi, jika pesanan membludak maka produksi bisa dua kali lipat. Adapun satu kemasan isi 100 gram dijual seharga Rp30 ribu. “Kalau penghasilan saya sebelum bermitra dengan Antam, hanya Rp700 ribu perbulan. Sekarang bisa mencapai Rp5 juta, tapi kalau produksi sedang banyak maka bisa mencapai Rp10 juta perbulan. Alhamdulillah, jadi saya sangat bersyukur. Terima kasih Antam,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Totobo Muslimin menjelaskan, bantuan Antam betul-betul melihat kebutuhan prioritas mitra binaan yang dilakukan secara bertahap. “Kami sebagai pemerintah desa tentunya sangat bersyukur dengan adanya Antam, karena Antam memang sengaja mencari potensi-potensi apa yang bisa dikembangkan di wilayah ring I, termasuk di Totobo. Contohnya ibu Hj. Maryam ini. Jadi kita harapkan kedepan di Totobo ini bisa berkembang, apalagi di Tototobo potensi sumber daya alamnya khususnya budidaya ikan bandeng melimpah,” katanya.

Menurutnya, bisnis olahan abon bandeng setidaknya bisa menjadi percontohan di desanya. “Kalau ada tamu baik dari Antam maupun pemerintah daerah, kami jadikan oleh-oleh sekaligus ajang promosi bahwa di Totobo itu ada pengolahan abon bandeng. Begitu juga kalau ada pameran, maka kita pamerkan. Ibu (Hj. Maryam, red) juga bisa jadi percontohan bagi masyarakat di Totobo, sehingga perekonomian masyarakat desa bisa meningkat. Karena kita sudah punya motivator, apalagi sudah biasa kita adakan pelatihan-pelatihan,” ungkapnya.

Kedepannya, lanjut Muslimin, tempat produksi akan dibuat sesuai standar industri. “Beberapa kendala yang mungkin masih dihadapi ibu Maryam, setidaknya ada pihak-pihak lain yang bisa mengatasi masalah-masalah itu. Contohnya seperti permodalan dan pelatihan, ada Antam yang bisa membantu,” harapnya.

Muslimin menambahkan, sudah memasukan abon bandeng massipa sebagai unggulan di desa Totobo. Jadi tinggal pengembangannya, sehingga nantinya bisa menjadi icon. Apalagi sekarang pemerintah desa juga dituntut punya produk unggulan. “Jadi kedepan juga saya sudah koordinasikan dengan Bumdes (badan usaha milik desa, red), agar bisa kerjasama bagian pemasarannya. Jadi bu Aji (Hj. Maryam, red) tinggal produksi, karena kalau lancar usahanya otomatis orang-orang sekitar sini kan bisa dipekerjakan. Apalagi peluang pasar sudah bagus, pengalaman sudah ada dan bahan baku tidak susah. Kedepannya pengolahan ikan ini bukan hanya satu macam, tapi banyak namun memang yang sekarang terkenal baru abon bandeng massipa,” tutupnya.

Terpisah, Asisten Manager Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Antam UBPN Sultra, Maemanah menjelaskan, sudah menjadi tanggung jawab perusahaan untuk melakukan pembinaan terhadap mitra binaannya. Tak terkecuali kepada Hj. Maryam, yang kini sukses berbisnis abon bandeng massipa.

“Potensi pengembangan abon bandeng massipa memang sangat besar. Makanya dari awal kami selalu berikan pembinaan. Terbukti sekarang abon bandeng massipa terkenal. Bahkan pemiliknya (Hj. Maryam, red) sekarang sudah bisa memberikan pelatihan kepada orang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap tahunnya harus ada pembinaan agar mitra binaan bisa semakin terampil dan usaha mereka bisa semakin berkembang.

“Setiap pelatihan yang kami adakan pesertanya tentu diprioritaskan mitra binaan. Jadi dalam program kemitraan itu ada dana yang dipinjamkan ke mitra binaan dalam bentuk modal usaha. Itu kita kenakan jasa sebesar tiga persen pertahun, atau 0,25 persen perbulan. Itu tanggungjawabnya kami di PKBL, mengembalikan dana itu kemitra binaan dalam bentuk pembinaan. Atau menjadikan dana itu dana bergulir, jadi kita beri kesempatan yang lain untuk mendapatkan pinjaman modal,” jelasnya. (Nawir)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top