METRO KOLAKA

Emak-Emak ‘Ngamuk’ di Rujab Bupati Kolaka

Situasi di depan Rujab Bupati Kolaka saat emak-emak berusaha menerobos barisan aparat kepolisian, Senin (28/1). FOTO: Kaulia Ode/ Kolaka Pos

Polisi dan Wartawan jadi Korban Lemparan Telur

KOLAKAPOS, Kolaka — Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kolaka tampak ramai kemarin, Senin (28/1). Selain karena ada prosesi pelantikan 21 kepala desa (Kades), keramaian itu juga disebabkan aksi demonstrasi yang massanya didominasi emak-emak. Mereka ‘mengamuk’ di depan pintu masuk Rujab Bupati.

Pantauan Kolaka Pos, emak-emak yang tergabung dalam massa aksi warga Desa Popalia itu berusaha menerobos
masuk ke dalam Rujab untuk menemui bupati Kolaka, Ahmad Safei yang baru saja melantik 21 Kades terpilih yang
salah satunya Yusran sebagai Kades Popalia, Kecamatan Tanggetada, Kolaka.

“Jangan halangi pak (Polisi), kami mau mempertanyakan langsung apa dasarnya bupati melantik Yusran sebagai Kades Popalia, padahal nyata-nyata Pilkades Popalia itu penuh kecurangan,” ujar salah seorang emak-emak sembari menerobos barisan aparat yang berjaga-jaga di pintu masuk Rujab.

Namun, aparat kepolisian yang tampak rapi dan sigap berjaga-jaga berhasil mengalau upaya terobosan itu. Aksi
saling dorong pun terjadi. Situasi itu rupanya dimanfaatkan salah seorang emak-emak berhijab hijau untuk mengeluarkan jurus ala dukun. Dia dengan menyemburkan air mineral ke arah aparat. “Tolong pak kami mau masuk,” kata wanita itu dengan wajah memerah.

Tak ingin terprovokasi, polisi yang dibantu TNI akhirnya mengamankan emak-emak tersebut. Sementara emak-emak lainnya terus berupaya masuk. Tapi tetap saja tak bisa tembus. Tak hanya sampai di situ, beberapa di antara emak-emak itu melancarkan jurus lain dengan melemparkan telur dan tomat ke arah aparat. Akibatnya, lemparan itu mengenai sejumlah aparat. Bahkan, salah seorang awak media yang meliput demonstrasi itu juga menjadi korban lemparan telur.

“Saya kena lemparan,” ujar Sofyan, salah seorang rekan wartawan, sembari menunjukkan bajunya yang bernoda kekuning-kuningan.

Sementara itu, di tempat yang sama, koordinator aksi Djabir Teto Lawukuhi terus menyuarakan tuntutannya.

Dalam orasinya, dia mempertanyakan perihal dasar bupati melantik Yusran sebagai Kades Popalia terpilih. Padahal menurutnya penyelenggaraan Pilkades Popalia masih dalam proses sengketa.

“Dalam undang undang nomor 6 tahun 2014 memberi kejelasan dan mekanisme penyelesaian sengketa hasil suara Pilkades diselesaikan paling lambat 30 hari oleh bupati sejak diterimanya.

Namun penyampaian hasil pemilihan dari panitia Pilkades dalam bentuk keputusan bupati, dan sampai hari ini surat keputusan bupati juga tidak ada. Yang paling sedih adalah rekomendasi DPRD Kolaka terhadap Pemda untuk dilakukan perhitungan ulang tidak juga diindahkan,” papar Djabir.

Dalam aksi itu juga massa meminta Bupati Kolaka menemui mereka untuk menjelaskan perihal dasar pelantikan Kades Popalia. Namun karena tak kunjung ditemui, massa kemudian bergeser ke depan Kantor Bupati Kolaka untuk melakukan aksi serupa. (kal)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top