BERITA UTAMA

Warga Tikonu Kecewa, Tokoh Masyarakatnya tidak Dilibatkan di Acara Mosehe

Presidium Kopi Gersang Sabarudin T Pauluh

KOLAKAPOS, Kolaka — Warga desa Tikonu yang tergabung dalam Komunitas Pintu Gerbang Sangia Nibandera (Kopi Gersang) desa Tikonu kecewa terhadap panitia Mosehe Wonua. Pasalnya Kopi Gersang menilai pihak panitia telah melecehkan masyarakat Tikonu dan juga lembaga adat Tikonu, sebab dalam proses kegiatan adat Mosehe Wonua yang akan dilaksanakan besok (26/2) di area makam Raja Sangia Nibandera desa Tikonu, kecamatan Wundulako panitia tidak pernah melakukan koordinasi kepada lembaga adat dan juga tidak melibatkan sepenuhnya masyarakat Tikonu dalam hal kepanitiaan.

” Yang sebenarnya siapa yang punya hajat? kanapa Ketua Adat yang dilibatkan dipilah-pilah, bahkan anehnya lembaga adat Tikonu sendiri tidak satupun yang dilibatkan, padahal pusat kegitan ada di desa Tikonu, ” Singgung presidium Kopi Gersang Sabarudin T Pauluh saat ditemui media ini, Senin (25/2).

Seharusnya kata mantan Ketua PWI Kolaka ini, jika yang punya hajat dewan adat kabupaten, maka dewan adat telah menciptakan dikotomi atau sikap yang menempatkan dua hal yang berbeda dan sulit untuk disatukan antar tokoh masyarakat, kenapa tokoh masyarakat Tikonu yang notabene sebagai tuan rumah dipandang sebelah mata.

” Ada apa dengan panitia? Sebagai warga Tikonu yang dekat dengan situs budaya Sangia Nibandera sangat tersinggung dengan tidak adanya penghargaan pihak panitia, wajar kalau sebagian masyarakat Mekongga merasa tidak menjadi bagian dari pewaris leluhur, sebab ada sebagian oknum yang memposisikan dirinyalah sebagai pewaris sesungguhnya di bumi Mekongga, ” kesalnya.

Menurutnya, untuk apa ada kegiatan Mosehe Wonua kalau seluruh masyarakat khususnya tokoh adat di negeri Mekongga ini tidak dilibatkan. Seolah-olah, keberadaan situs budaya sangia Nibandera hanya warisan segelintir tokoh. Olehnya itu, kalau saat ini masyarakat Mekongga banyak yang tidak merasa bagian dari pewaris leluhurnya, itu karena adanya kesan yg diciptakan para elit tokoh tertentu yang seolah mengklaim merekalah yang paling berhak atas budaya Mekongga.

” Yang masyarakat kecil, yang tidak berpangkat, seolah tdk perlu merasa bagian dari pewaris budaya. Kalian anggap apa kami ini, masyarakat Mekongga yang ada di Tikonu, ” jelasnya.

Apalagi sejak dari dulu itu, masih zaman orang tua kita, tidak pernah mereka hargai . Karena kita dianggap bukan bagian dari pewaris budaya, jadi supaya mereka paham, orang Tikonu itu dari dulu tidak pernah dianggap. Makanya, secara adminustrasi saja pemerintahan, nyata-nyata itu situs masuk dalam wilayah Tikonu, tapi diklaim wilayah Silea.

” Jadi, yah sudah. Tidak perlu kita berpartisipasi dalam urusan disana. Toh juga kita tidak dianggap, ” katanya. (K9/c/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top