BERITA UTAMA

Ritual Mosehe Wonua Berlangsung Khidmat

Salah Kegiatan Prosesi Adat Mosehe Wonua Yaitu Penyembelihan Satu Ekor Kerbau Putih

Bupati Ahmad Safei dan Wakil Jayadin Hadir

Lembaga Adat Tikonu tak Hadiri Kegiatan Mosehe Wonua

 

KOLAKAPOS, Kolaka — Kegiatan ritual Mosehe Wonua atau Pensucian Negeri yang digelar Pemda Kolaka di area cagar budaya nasional makam Raja Sangia Nibandera desa Tikonu Selasa (26/2) berlangsung khidmat dan dihadiri langsung Bupati Kolaka H Ahmad Safei bersama wakil Bupati Kolaka H Muhamad Jayadin dan Raja Bokeo Mekongga H Haerun Dachlan. Namun dalam pelaksanaannya tak satupun anggota lembaga adat Tikonu selaku tuan rumah yang hadir dalam acara tersebut. Selain lembaga adat Tikonu, orang tua kampung (Putobu) Tikonu juga tidak hadir. Ketidak hadiran para lembaga adat Tikonu dan tokoh masyarakat Tikonu merupakan bentuk protes kepada panitia penyelenggara kegiatan.

Sebab masyarakat Tikonu selaku tuan rumah dipandang sebelah mata karena tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

” Kami sengaja tidak menghadiri acara Mosehe Wonua, karena ini merupakan bentuk protes kami kepada pihak panitia yang tidak menghargai kami selaku tuan rumah, ” ungkap Ketua Lembaga adat Tikonu Nurdin P saat ditemui media ini, Selasa (26/2).

Sebagai Ketua Lembaga Adat, kata mantan Kepala desa Tikonu tiga periode ini, selalu mengapresiasi jika ada kegiatan adat ini yang bisa selalu dilaksanakan setiap tahunnya, namun akan tetapi kita sebagai tuan rumah harus dilibatkan atau paling tidak minimal ada pemberitahuan dari pihak panitia atau pemerintah setempat, apalagi lembaga adat ini dibentuk berdasarkan Perda. Selain itu, desa Tikonu ini diwacanakan sebagai desa adat jadi perlu dievaluasi dan diperbaiki terutama payung hukumnya agar lembaga adat ini benar-benar diperhatikan tidak hanya sekedar dibentuk.

” Seolah-olah kami ini tidak ada artinya sebagai lembaga adat padahal pembentukan lembaga adat dari Perda bukan dari kepala desa. Dan kami rasakan sepertinya kami ini tidak ditau. Bahkan sudah sering ada yang melakukan kegiatan adat dikampung kita tapi tidak pernah kami dilibatkan. Padahal selama ini jika ada kegiatan adat masyarakat Tikonulah yang selalu berpartisipasi bahkan memberikan kontribusi tenaga, ” bebernya.

Untuk itu, Nurdin berharap agar bupati Kolaka bisa melakukan evaluasi terkait keluhan kami selaku lembaga adat.

” Sebagai Ketua lembaga adat meminta kepada bapak Bupati agar kami ini yang sudah dibentuk harus diperhatikan karena kami merasa kami selaku tuan rumah tapi dianggap sebagai tamu. Jadi harapan kita kedepannya jika ada acara-acara adat coba kita selaku tuan rumah benar-benar dilibatkan sebab makam raja Sangia Nibandera terletak didesa Tikonu meskipun kegiatan ini kapasitasnya kabupaten, tapi inikan berada dikampung kita masa kita hanya dijadikan penonton, ” harapnya.
Hal senada dikatakan Putobu (Orang Tua kampung) Amran Arsyad Pauluh yang kecewa akan pelaksanaannya Mosehe wonua sebab pihak panitia tidak pernah melibatkan secara langsung masyarakat Tikonu dan tidak pernah melakukan koordinasi kepada lembaga adat Tikonu dan tokoh masyarakat Tikonu. Parahnya lagi pihak panitia telah membuat udangan dengan mencantumkan alamat Mosehe berada di kelurahan Silea itulah yang menyulut amarah masyarakat Tikonu, karena berdasrkan sejarah dan pengakuan para tokoh adat serta letak lokasi makam raja Sangia Nibandera memang terletak di desa Tikonu.

” Kami masyarakat Tikonu tidak butuh jabatan tapi kami hanya butuh penghargaan, karena kami sebagai tuan rumah, apalagi berbicara sejarah orang Tikonu buka o’ata (pesuru alias pembantu) akan tetapi orang Tikonu merupakan turunan langsung Raja Mekongga dan itu tidak bisa dipungkiri. Sehingga kita bisa dilihat antusias masyarakat Tikonu dalam menyambut kegiatan adat ini tidak ada karena masyarakat Tikonu kecewa terhadap panitia, ” kesalnya.

Sementara itu, Bupati Kolaka H Ahmad Safei berharap agar dalam pelaksanaan kegiatan Mosehe wonua ini kedepannya bumi Mekongga semakin aman dan sejahtera. Dan tidak ada lagi aksi protes yang dilakukan oleh lembaga adat.

” Saya baru dengar kalau ada protes, tapi saya berharap begini bagaimana bumi Mekongga ini bisa sejuk, dingin aman dan damai. Sehinga dengan pelaksanaan Mosehe Wonua ini sebagai pensucian negeri dengan acara seperti ini jangan lagi ada protes-protes. Kita hadir agar skat-skat dimasa lalu bisa mencair hari ini, ” harap bupati Kolaka. (K9/c/hen).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top