KONAWE SELATAN

Perayaan Nyepi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Desa Jati Bali

Suasana di Desa Jati Bali Konsel, terlihat suasana Desa tersebut hening dan tak ada yang beraktifitas. FOTO: Saprudin/Kolaka Pos

KOLAKAPOS, Andoolo — Nyepi merupakan perayaan untuk hari raya umat Hindu, berdasarkan kalender Saka. Biasanya hari besar dirayakan dengan meriah, namun hari raya Nyepi sebaliknya. Sesuai dengan namanya, Nyepi yang berarti sepi atau sunyi, umat Hindu tidak diperkenankan melakukan kegiatan, Kamis (7/3).
Hal ini juga yang dilakukan oleh umat Hindu yang berada di Desa Jati Bali, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Dari pantauan di kampung tersebut, hampir tak ada satupun aktifitas yang dilakukan masyarakat setempat.

Bahkan, beberapa ruas jalan wilayah itu dipalang dengan menggunakan kayu agar tak ada yang melewatinya. Pada prinsipnya saat Nyepi, panca indra diredakan dari nafsu panca indra, agar dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup semakin meningkat.
Tak banyak informasi yang dapat dihimpun dari perayaan Nyepi di Desa Jati Bali, namun salah seorang warga setempat Made Deka (28) yang berhasil ditemui mengungkapkan, perayaan Nyepi dimulai pukul 06.00 WITA kemarin dan akan berakhir pada pukul 06.00 WITA hari ini.

“Hal itu ditandai dengan adanya semacam kentongan yang dipukul, oleh Calang (petugas Nyepi),” katanya.
Terkait persiapan, Deka mengaku tak ada persiapan khusus untuk menyambut hari raya Nyepi, bahkan ia dan keluarganya hanya menyiapkan mental untuk menahan hawa nafsu dan beberapa sesajian untuk dibawa ke Pura.

“Kalau seperti pembuatan ogoh-ogoh itu memang dibuat bersama warga, ada juga namanya ‘pencaruan’ seperti sesajian yang kita taruh di depan rumah. Tapi itu memang kewajiban umat kami kalau mau Nyepi,” paparnya.

Takut dimarahi oleh petugas nyepi (Calang), yang telah ditunjuk untuk bertugas mengamankan wilayah sekitar, Deka segera berlalu meninggalkan beberapa awak media.

Sementara itu, sikap saling menghargai atau toleransi antar umat beragama, juga terlihat di Desa tersebut, dimana aktivitas beberapa warga sekitar yang bukan beragama Hindu, juga cukup lengang, tak seramai seperti hari-hari biasa.

Hal tersebut, diungkapkan Benyamin (58) yang beragama Nasrani, dikatakannya jika dihari-hari biasa aktifitas kendaraan di depan rumahnya selalu ramai dari pengendara dan warga. Namun adanya perayaan hari ini suasana sepi.

“Sudah puluhan tahun saya disini, kalau perayaan Nyepi, kita juga kurangi aktifitas diluar ini untuk menghargai peribadatan umat Hindu, paling kalau keluar rumah nanti ada yang penting,” ungkapnya.
Sejak pagi, sambung Benyamin, ia tak melihat ada orang dewasa yang keluar, yang ada hanya anak-anak kecil yang bermain diluar.

Hal serupa diungkapkan oleh Husni (35) beragama Islam. Wanita berkerudung ini menjelaskan, meski dirinya Muslim namun ia dan keluarganya juga membatasi aktifitasnya pada perayaan Nyepi. Hal itu ia lakukan untuk menghargai umat Hindu khususnya yang berada di Desa Jati Bali.

“Biasanya kalau saya belanja disamping rumah yang pemiliknya umat Hindu, namun untuk menghargai peribadatan mereka (Hindu), saya lebih memilih belanja diluar, bahkan bukan kami saja yang melakukannya tetangga yang lain juga sama dengan kami,” tukasnya. (k5/b)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top