FEATURE

Kisah Perjuangan Ahmad Syamsuddin Azhar, Tak Kenal Lelah Memotivasi Masyarakat

Ahmad Syamsuddin Azhar punya definisi sendiri tentang arti kata sukes. Bagi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) ini, sukses itu jika sudah bisa berbagi dengan orang lain.

Nawir, Kolaka

Menjadi inspirator dan memberikan ilmu untuk orang lain agar sama-sama sukses, menjadi hal utama yang diharapkan Ahmad Syamsuddin Azhar. Prinsip itulah yang membuat pria kelahiran Toari 35 tahun silam ini kerap mendapat penghargaan dari beberapa lembaga.

Ahmad sapaan akrab Ahmad Syamsuddin Azhar semakin terkenal ketika merangkul masyarakat yang bergerak dibidang pertanian dan peternakan, untuk mengembangkan usaha mereka. Awalnya, Ahmad diremehkan karena hanya menyandang gelar sarjana peternakan. Namun hal itu tak menyurutkan niatnya dan semakin memotivasi dirinya agar memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Door to door dilakukan suami Susilowati ini. Ia membeberkan, ada beberapa ketakutan yang sering dihadapi masyarakat dalam memulai suatu usaha. Diantaranya adalah ketakutan berada di zona tidak nyaman, takut terhadap reaksi yang tidak diinginkan, takut melangkah untuk berubah dan takut berkonfrontasi dengan orang lain.

Nah, sebagai sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan tinggi dan sudah kenyang pengalaman, Ahmad merasa terpanggil menularkan semangat leadership dan keberanian kepada masyarakat sekitarnya. “Kami (pekerja sosial masyarakat, red) lahir dan hadir dari rakyat. Salah satu program kami bagaimana membantu pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia yang ada, baik di pedesaan maupun perkotaan,” ujarnya, Kamis (28/3).

Dia bercerita tentang alasannya melakukan semua itu, karena dirinya ingin bisa berbagi dengan orang lain dan bermanfaat untuk masyarakat. “Bagi saya, sukses itu jika bisa share dengan orang lain, bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Kemudian saya bisa memberikan dampak positif kepada orang lain, dan juga bisa membantu orang lain untuk sama-sama sukses, itulah arti kesuksesan yang sebenarnya,” beber ayah dari Amelia Ahmad, Nur Khofifa Ahmad dan Ahmad Al-fhat Azhar ini.

Terkait apa yang telah dilakukannya hingga saat ini, itu hanyalah gambaran kecil dari beberapa hal yang masih banyak akan dilakukan. Hanya saja masih ada keterbatasan waktu dan keterbatasan koneksi, baik itu perusahaan-perusahaan maupun jalur birokrasi.

“Untuk program pemberdayaan masyarakat baik usaha kecil dan menengah, pertanian, perkebunan dan peternakan, diantaranya telah melakukan dari hal terkecil di kecamatan Toari, telah melakukan beberapa pemberdayaan budidaya ternak kambing dan sapi hingga sistem pengelolaan limbahnya, yang sampai saat ini Alhamdulillah kami sudah bisa mendapatkan hasil dari budidaya ternak tersebut dengan pengolahan limbahnya menjadi pupuk. Jadi masyarakat sangat antusias dengan program ini, karena kotoran ternak yang tadinya tidak ada nilainya kini berharga. Bukan hanya di Toari saja, saya juga melakukan program yang sama di Pomalaa, dengan menjadi mitra PT Antam untuk membina beberapa kelompok masyarakat yang ada di kecamatan Pomalaa. Dalam konsep budidaya ternak kambing dan Insya Allah dalam program kelanjutannya memprogramkan pengolahan limbah (ternak kambing, red) di kecamatan Pomalaa, agar para peternak yang ada di Pomalaa bisa mendapat tambahan penghasilan karena menciptakan lapangan kerja baru dalam hal pengolahan limbahnya. Karena saya sangat yakin bahwa PT Antam sangat membutuhkan pupuk organik atau pupuk kompos, untuk digunakan pada lahan eks tambang yang mereka kelola. Jadi ada nilai lebih lagi yang bisa didapatkan masyarakat,” bebernya.

Untuk tingkat kabupaten, dirinya masih bergerak sebatas memberi semangat atau memberi motivasi kepada pelajar dan mahasiswa melalui seminar nasional, untuk bagaimana sebagai generasi muda bisa berkarya dan berusaha demi menciptakan generasi muda yang handal, terutama generasi-generasi muda yang berjiwa sosial.

Bagi Ahmad, usaha dan membagi ilmu kepada masyarakat adalah bagian dari hidup. Kedua aspek itu bukan lagi sekadar untuk mencari nafkah, melainkan sudah tanggung jawab dirinya kepada sesama dan pengabdian kepada Tanah Air.

“Semua orang pasti memiliki rasa takut. Namun, pemenang tidak akan lahir jika terus-terusan dibayangi ketakutan. Pemenang akan lahir jika mampu mengalahkan rasa takut,” tutupnya. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top