FEATURE

Melihat Lebih Dekat Lokasi Rehabilitasi DAS Antam di Rarowatu

VP Mining and Operational Support PT Antam Tbk UBPN Sultra, Luqman Eko Atmojo (ujung kiri), yang didampingi Public Relation Assisten Manager Dedy Supriyadi (kedua dari kiri) berada di perjalanan menuju lokasi rehabilitasi DAS PT Antam.ist/Kolaka Pos

Butuh fisik dan nyali kuat untuk bisa sampai ke wilayah rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) PT Antam Tbk UBPN Sultra, yang berada di kecamatan Rarowatu, kabupaten Bombana. Bagaimana tidak, jalan terjal dan hanya bisa dilalui kendaraan “khusus” memberikan kesan tersendiri.

Di bawah siraman sinar matahari yang baru saja beranjak naik, setelah sebelumnya menempuh perjalanan empat jam yang bertolak dari lokasi pertemuan di Wisma Fitrah, Kompleks Antam, Pomalaa, pukul 02.30 WITA, rombongan rehabilitasi DAS PT Antam sudah berjibaku di atas hardtop yang menerobos gunung padang sabana di kawasan Rarowatu, kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tiga mobil legendaris yang mengantar rombongan ini meraung-raung mendaki bukit terjal, yang semakin memacu adrenalin.
Beruntung, saat itu ada kendaraan “khusus” yang disiapkan. Kendaraan tersebut biasa digunakan mengangkut bibit tanaman ke lokasi rehabilitasi DAS. Jika tidak maka rombongan harus menempuh perjalanan 4-5 jam dengan berjalan kaki. Sedangkan menggunakan kendaraan hanya butuh waktu 1 jam 45 menit. Akan tetapi, “ujian” untuk bisa sampai ke lokasi rehab DAS justru ketika berada di atas hardtop yang terkesan reyot. Pasalnya, jika ban meleset dari jalurnya maka nyawa taruhannya. Apalagi hujan mengguyur jalur pebukitan yang semakin menyulitkan laju kendaraan karena medan licin.
Namun, lelah seakan sirna ketika menyaksikan pemandangan alam sekitar yang menawarkan pesona bukit.
“Tanaman yang sudah ditanam dalam program rehabilitasi DAS ini harus dijaga baik-baik, karena butuh perjuangan yang besar untuk bisa sampai kesini (Rarowatu, red),” ujar Vice President Mining and Operational Support PT Antam Tbk UBPN Sultra, Luqman Eko Atmojo, yang didampingi Public Relation Assisten Manager Dedy Supriyadi, di lokasi rehabilitasi DAS, Sabtu (13/4).
Luqman Eko Atmojo menjelaskan, rehabilitasi DAS yang dilakukan di desa Rarowatu, kelurahan Taubonto dan desa Lakomea, kecamatan Rarowatu, kabupaten Bombana, Sultra, seluas 285 hektar, merupakan komitmen PT Antam sebagai perusahaan pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Nah, bagaimana dengan Pomalaa sendiri, nanti kalau sudah dimanfaatkan untuk ditambang? Ya, tentu saja Antam ada kewajiban melalui program pasca tambang. Jadi setelah dilakukan penambangan di lokasi IPPKH tadi dilakukan namanya mine out atau pasca tambang, kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi atau penanaman kembali. Jadi semua yang kita manfaatkan, akan kembali dihijaukan. Kita tahu hutan itu merupakan sumber dari oksigen, kemudian hutan juga bisa menahan air kemudian meresapkan air ke dalam tanah sehingga menjaga kelestarian debit air. DAS yang sehat salah satu indikatornya adalah tidak terjadi banjir ketika hujan lebat terjadi, karena hutan berfungsi untuk bisa menyerap dan menahan air melalui vegetasi yang ada di hutan atau bukit-bukit yang sudah dihijaukan. Begitu juga pada musim kemarau, tidak terjadi kering betul karena air yang sudah dianugerahkan yang maha kuasa diturunkan melalui hujan, yang bisa ditahan dan diserap oleh hutan. Itulah salah satu pentingnya kita perlu melakukan rehabilitasi DAS,” paparnya.
Adapun jumlah pohon yang ditanam dalam area 285 hektar, yakni sebanyak 315 ribu tanaman. Setelah ditanam pada tahun pertama, tahun kedua akan dilakukan perawatan dan tahun ketiga masih ada juga perawatan sehingga bisa dipastikan tanaman yang sudah ditanam bisa tumbuh dan menyatu dengan alam kembali. “Itulah kenapa bukan hanya ditanam lalu ditinggalkan begitu saja, namun kita juga tetap melakukan perawatan dan pemupukan. Apalagi dibantu penyiraman alami melalui curah hujan yang teratur. Kemudian pohon yang ditanam itu beragam, mulai dari bitti, kemiri, durian, aren dan jabon,” ujarnya.
Antam juga berterimakasih kepada semua pihak yang berperan dalam kegiatan ini. Hal ini tentunya merupakan komitmen PT Antam bekerjasama dengan Pemkab Bombana dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Unit X Tina Orima, melalui PT. Indmira dalam melestarikan hutan di Sulawesi Tenggara. “Artinya, ini merupakan tanggungjawab dari PT Antam dan pemerintah, kita sinergi disini sehingga sama-sama kita memelihara alam untuk keberlangsungan hidup anak cucu kita dimasa depan. Jadi kita tidak hanya mengambil manfaat yang ada pada saat ini saja, namun kita juga bertanggungjawab terhadap generasi kita yang akan datang,” tutupnya.
Di tempat yang sama, perwakilan KPH Unit X Tina Orima Bombana Lukman mengatakan, daratan Bombana dari 115,093 hektar diluar dari kawasan nasional itu 55 ribu hektarnya adalah padang savana. “Yang patut kita syukuri, walaupun PT Antam tambangnya di Kolaka, Alhamdulillah rehab DAS-nya ada di Bombana. Karena memang aturannya IPPKH bisa keluar kalau ada lokasi untuk rehab DAS dan itu ditetapkan oleh Kementerian. Apalagi wilayah savana di Bombana ini memang harus ada perlakukan khusus. Nah, ini mungkin yang menjadi tantangan kita kedepan, karena 315 ribu pohon itu kalau dia bisa mempengaruhi penyerapan air maka terjadi ground water (air tanah). Intinya masyarakat supaya tidak kebanjiran. Inilah jawaban yang bisa kita pertahankan, supaya ground water bisa betul-betul berfungsi, bukan lewat air permukaan. Jadi kami sangat berterimakasih sekali atas ditetapkannya lokasi ini (Rarowatu, red) untuk rehab DAS PT Antam. Kami juga sangat berterimakasih terkait dengan penunjukan (PT Indimira, red) partner PT Antam, artinya kami banyak belajar karena PT Indimira sangat profesional dalam bekerja. Kami juga ada di tempat lain yang sama modelnya seperti ini (rehab DAS, red), tapi Indmira ini lebih terstruktur,” bebernya.
Sementara itu, Kasi PMD Kecamatan Rarowatu, Dadi Sahugi, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mewakili pemerintah kabupaten Bombana, karena ditunjuknya Rarowatu sebagai lokasi rehabilitasi DAS PT Antam Tbk UBPN Sultra.
“Kami bersyukur wilayah kami mendapat sentuhan penghijauan PT Antam, karena tidak semua daerah bisa terealisasi. Kami juga berterima kasih karena adanya program ini, sehingga tenaga kerja lokal bisa terserap. Jadi secara tidak langsung juga masyarakat sudah bisa belajar dan menyayangi, serta bagaimana rasa memiliki tanah ini bahwa dia adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia,” tandasnya.

Berdayakan Korban Gemba dan Masyarakat Sekitar

HSE Manager PT Antam Tbk UBPN Sultra Bara Sukaton mengatakan, kegiatan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai ini, PT. Antam bekerja sama dengan PT. Indmira sebagai pelaksana kegiatan. Terkait pengadaan beberapa bibit pohon untuk kebutuhan rehab DAS, sebagian besar diambil dari daerah sekitar Palu dengan memberdayakan korban gempa Palu.
“Jadi setidaknya kami juga membantu korban pasca gemba Palu, dengan bekerja sama pengadaan bibit pohon. Masyarakat sekitar rehabilitasi DAS juga dilibatkan penuh dalam program ini,” ujarnya.
Sementara itu, Project Manager PT. Indmira, Maulida Riza mengungkapkan, penyediaan bibit untuk kebutuhan kegiatan penanaman ini cukup sulit. “Membutuhkan upaya yang cukup besar mengingat spesies yang ditanam di wilayah Rarowatu, harus adaptif serta memberi manfaat kepada masyarakat. Pada dokumen rancangan teknis rehabilitasi DAS, salah satu jenis tanaman yang ditanam dalam jumlah yang banyak adalah kemiri (aleurites moluccanus), tanaman ini masuk ke dalam tanaman multi purpose spesies tree (MPTS) disamping aren (arengka pinata) dan durian (Durio sp.),” ungkapnya.
Kebutuhan jenis tanaman ini mencapai 100 ribu pohon dari total 315 ribu pohon. Untuk mendapatkan tanaman ini dalam jumlah yang banyak tim melakukan survey hingga ke Sulawesi Tengah. Di Desa Bulili, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, tim memperoleh informasi terdapat sentra kemiri. Saat survey, masyarakat tidak memiliki stok yang cukup sesuai kebutuhan. Namun kondisi ini memberi harapan baru untuk membangun kembali hidup mereka setelah bencana gempa meluluh lantahkan masyarakat Palu.
“Bapak Abdurrahman seorang imam di desa Bulili, mengkoordinir masyarakat dari beberapa desa sekitar untuk menyediakan bibit dalam jumlah yang besar, kualitas yang baik dan waktu yang singkat. Kondisi menjadi cambuk sekaligus harapan sehingga masyarakat menerapkan metode yang mampu menyediakan bibit dalam waktu singkat secara bertahap sesuai kebutuhan dalam kegiatan rehabilitasi DAS ini. Pada bulan Maret 2019 PT. Indmira dan masyarakat Desa Bulili menandatangani surat perjanjian pembelian bibit sebanyak 100 ribu dan sudah mulai dikirim secara bertahap,” beber Maulida Riza.
Terpisah, Kades Lakomea Efendi mengatakan, dari segi pemberdayaan masyarakat sekitar dilibatkan. “Kalau tanaman sudah ditanam, kami inginkan tidak boleh dilepas dan harus ada pemeliharaan. Kami akan mensosialisasikan lagi kepada masyarakat, agar tanaman yang sudah ditanam agar dijaga, jangan sedikit-sedikit dibakar supaya bisa hijau hutan kita ini. Kalau sudah berhasil pasti masyarakat setempat yang rasakan,” imbuhnya. (Nawir)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top