BERITA UTAMA

Dishub dan Dispenda Kolaka Kebingungan Cari Solusi

Kondisi pasar Mangolo, lods-lods tampak tertutup tanpa penghuni. FOTO: Kaulia Ode/ Kolaka Pos

Untuk Hidupkan Terminal dan Pasar Mangolo yang ‘Mati Suri’

KOLAKAPOS, Kolaka — Apa kabar terminal dan pasar Mangolo? Ternyata kabar kedua bangunan yang berdiri di Kelurahan Mangolo, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka, Sultra itu masih sama seperti beberapa pekan lalu. Masih ‘mati suri’.
Pantauan awak Kolaka Pos pada Rabu (8/5) pagi, baik terminal maupun pasar kompak sunyi senyap. Tak ada aktifitas di sana. Padahal terminal dan pasar tersebut sudah diresmikan penggunaannya sejak Februari 2019 lalu.
Kini, pasar yang dibangun dengan anggaran negara miliaran rupiah dari Kementerian Perdagangan melalui Dinas Perdagangan Kabupaten Kolaka itu sama sekali tidak berfungsi. Ratusan lods pedagang, baik lods tertutup maupun lods terbuka yang terdiri dari beberapa blok terlihat masih tertutup rapi. Berbagai kotoran tampak berserakan di lantai bangunan seolah menandakan pasar itu tak pernah digunakan untuk aktifitas jual beli.

Sementara itu, di bangunan terminal mobil angkutan Kolaka-Kolaka Utara yang terletak pas di depan pasar juga mengalami nasib serupa. Terminal tak bertuan. Petugas terminal maupun awak mobil angkutan lagi-lagi tak berada di sana pagi hingga siang itu.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Kolaka, Wardi yang beberapa pekan lalu pernah berjanji bakal menghidupkan terminal Mangolo mengaku bingung harus berbuat apalagi. Pasalnya menurut dia, pihaknya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk meramaikan terminal itu dengan menggiring para sopir agar bongkar muatan di sana. Tapi hasilnya, sopir masih membandel. “Sopir memang bandel. (Karena) ketika kita tidak
menjaga, ya, sopir tidak masuk (terminal),” ujar Wardi melalui sambungan seluler, Rabu (8/5).

Bahkan menurutnya, beberapa waktu lalu Dishub sudah turun swiping seharian full terhadap para sopir bandel itu. Alhasil, hari itu juga terminal ramai lancar. Namun setelah itu, kata Wardi, selang beberapa hari kemudian penyakit sopir kumat lagi. Mereka tidak lagi masuk terminal. “Inimi yang bikin kita bingung, masa kita mau menjaga terus di situ, sementara kita masih ada tugas lain juga,” terangnya.
Atas problem itu, saat ini ia mengaku petugas Dishub yang berada di lapangan cukup kewalahan. Petugas tak bisa lagi berbuat banyak, dan hanya menggantungkan harapan kepada para sopir agar taat aturan. Sopir diharap bisa membongkar muatan di terminal Mangolo, dan tidak lagi menggunakan terminal bayangan di dalam kota. “Ya solusinya kita kembalikan ke sopir, kita mau apakan lagi. Masa kita harus mau marah-marah setiap hari, apalagi ini bulan suci Ramadhan masa kita mau baku kejar-kejaran lagi di jalan,” katanya.

Selain menanti kesadaran sopir, Wardi juga berharap pasar Mangolo bisa berfungsi normal. Sebab menurutnya, tidak adanya aktifitas di pasar Mangolo seperti saat ini juga menjadi penyebab utama sopir dan penumpang tidak mau singgah di terminal. “Makanya kita harapkan juga pasar juga harus ada aktifitas. Karena terminal dan pasar ini sebenarnya harus jalan paralel. Kemarin itu kenapa kita pending difungsingkannya terminal padahal sudah jadi, karena itu kita menunggu kelarnya bangunan pasar. Makanya waktu HUT Kolaka kemarin itu terminal dan pasar diresmikan bersamaan. Jadi harusnya ini keduanya harus berfungsi paralel, tapi kenyataannya juga kan hari ini juga pasar tidak berfungsi,” paparnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah pihak Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Kolaka selaku instansi terkait pengelola pasar juga mengaku cukup kebingunangan mengatasi masalah yang terjadi di pasar Mangolo. Kadispenda Kolaka melalui Kabid Pengembangan dan Evaluasi Pendapatan Daerah, Ukkas, mengatakan sewaktu diresmikan bupati Kolaka, Ahmad Safei pada 28 Februari 2019 lalu, pasar Mangolo sempat ramai. Apalagi saat itu HUT Kolaka yang ke 59 digelar di sana. Namun, setelah acara tersebut kondisi di pasar Mangolo berangsur sepi.

Menurut Ukkas, tidak adanya aktifitas di pasar Mangolo seperti saat ini disebabkan beberapa hal. Salah satunya, proses perekrutan pedagang pasar dianggap tidak tepat sasaran. Sebagaimana kata dia, pemilik lods pasar Mangolo saat ini adalah masyarakat awam yang baru mencoba belajar jadi pedagang. “Ini memang kesalahan dari awal. Karena proses pendaftaran pedagang saat itu dilakukan oleh pihak Kelurahan Mangolo berjasama dengan Dinas Perdagangan selaku instansi yang menangani pembangunan pasar. Memang pedagang di pasar itu diprioritaskan untuk warga di sekitar situ. Tapi seharusnya pendaftarannya saat itu melibatkan juga kita, karena kita pengelola yang akan mengelola pasar selanjutnya. Tapi ini tidak, kami Dispenda tidak dilibatkan. Makanya pada saat pengelolaan pasar diserahkan ke kami, kami bahkan tidak tahu siapa-siapa itu penghuninya itu pasar,” ungkap Ukkas saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/5) sore.

Ukkas merinci, pasar Mangolo berjumlah 248 lods, terdiri dari 128 lods tertutup dan 120 lods terbuka. “Semua lods itu sudah terisi. Tapi setelah kita telusuri ternyata sebagaian mereka ini adalah masyarakat yang memang bukan berprofesi sebagai pedagang. Bahkan, kita pernah temukan ada penghuni yang belum punya barang dagangan untuk dijual di lods yang telah ditempati,” jelasnya.
Nah akibat dari itu, sebut Ukkas, menyebabkan warga sekitar tidak tertarik berbelanja di pasar Mangolo. Karena kebutuhan yang tersedia di sana tidak lengkap. Akhirnya perlahan-lahan pasar Mangolo mulai ditinggalkan hingga sepi senyap seperti saat ini.
Selain itu juga, minimnya calon pembeli di pasar Mangolo karena lokasinya yang kurang strategis. “Ya lokasinya kan tidak jauh dari pasar Raya Mekongga. Makanya mungkin masyarakat lebih tertarik berbelanja di pasar Raya Mekongga,” terang dia.
Namun demikian, ke depan Dispenda akan mengevaluasi kembali kepemilikan lods di Pasar Mangolo. “Ya, dari dulu kan kita inginkan seperti itu agar semua pemilik lods yang terdaftar itu diberi syarat kalau ada yang tidak aktif menjual hingga tiga bulan kita akan evaluasi. Tapi saat ini itu belum bisa kita lakukan karena status lods itu masih digrastiskan selama satu tahun. Tapi setelah 31 Desember 2019 nanti pasti akan evaluasi semuanya pemilik pemilik lods itu, supaya mereka aktif menjual,” pungkasnya. (kal/hen)

Bagikan
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top