KONAWE SELATAN

Kenali Tanda-tanda Banjir Bandang

Ilustrasi banjir bandang.

KOLAKAPOS, Andoolo — Kepala BPBD Konsel, Adiwarsyah Toar menjelaskan, secara keilmuan banjir bandang dikontrol oleh tiga kondisi utama. Pertama, kondisi geologi yang terjadi pada daerah hulu dari sungai-sungai yang mengalir di zona pegunungan dengan tektonik aktif, berkaitan dengan kondisi patahan aktif dan kekar-kekar yang membentuk pegunungan dan lembah-lembah sungai.

Kedua, kondisi seismisitas atau kegempaan dengan kekuatan mulai dari Magnitudo 2.5 hingga 4. Ketiga adalah adanya curah hujan ekstreem yg memicu terjadinya banjir bandang.

“Ketiga kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya longsor-longsor atau runtuhan batuan pada lereng dan lembah sungai pegunungan atau perbukitan tektonik aktif di bagian hulu,” imbuhnya.

Endapan longsor tersebut, tambahnya, terakumulasi di dalam lembah-lembah sungai yang akhirnya membendung aliran sungai dari arah hulu. Pada saat terjadi hujan ekstrem, kata dia, endapan longsor tersebut akan terdesak atau tertekan sehingga jebol dan membentuk aliran tanah pekat bercampur air sungai yang meluncur dengan kecepatan tinggi.

“Aliran inilah yang disebut dengan banjir bandang. Jangkauan aliran banjir bandang dapat mencapai beberapa kilometer dari arah hulu,” tuturnya.

Terkait hal tersebut, Ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir bandang. Terutama mereka yang bertempat tinggal di sepanjang aliran sungai. Menurutnya, material yang dibawa oleh banjir bandang bukan hanya berupa tanah dan bebatuan namun juga pepohonan.

Sejumlah tanda-tanda, lanjutnya, bisa menjadi alarm peringatan dini terjadinya banjir bandang. Diantaranya pertama, air sungai yang tiba-tiba berwarna keruh atau mengalir bersama lumpur, pasir dan bahkan disertai ranting-ranting kayu. Kedua, kadang disertai kenaikan muka air sungai sekitar 10-20 centimeter. Ketiga, cuaca di pegunungan atau perbukitan hulu sungai terlihat mendung atau berawan tebal.

Ia mengingatkan cara antisipasi jika terjadinya banjir bandang, diantaranya segera meninggalkan lembah atau bantaran sungai bila terlihat tanda-tanda banjir. Perlu dilakukan inspeksi di hulu sungai, untuk melacak adanya endapan-endapan longsor di hulu sungai.

“Endapan tersebut perlu segera ditangani agar tidak terakumulasi membendung sungai dan akhirnya jebol meluncur ke bawah saat hujan ekstreem terjadi,” tandasnya. (k5/c)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top