BERITA UTAMA

Ratusan Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

Kepala kantor pengamat pengairan Wundulako Marsono, SP

Debit Air Bendungan Wundulako Terus Menyusut

KOLAKPAOS, Kolaka — Musim kemarau yang terus melanda, rupanya berdampak pada penurunan debit air bendungan Wundulako. Pasalnya sungai Mekongga yang merupakan sungai terbesar dikecamatan Wundulako tersebut airnya semakin hari semakin surut, sehingga berdampak pada penyaluran suplai air bendungan Wundulako kepersawahan warga tidak optimimal. Akibatnya ratusan hektar sawah di dua kecamatan yakni kecamatan Wundulako dan Baula terancam gagal panen.

Kepala pengamat pengairan Wundulako Marsono mengaku, jika saat ini akibat kemarau debit air bendungan Wundulako terus mengalami penyusutan, sehingga suplai air kepersawahan tidak maksimal.

“Sekarang debit air terus menyusut, sehingga sudah tidak cukup untuk mengairi beberapa titik area persawahan warga di dua kecamatan. Sebab saat ini debit air perdetiknya dibawah satu kubik,” ungkapnya saat ditemui media ini, Kamis (19/9).

Seharusnya kata Marsono, debit air yang ideal mencapai dua kubik perdetiknya, namun akibat kemarau yang terus berkepanjangan debit air semakin menyusut.

“Idealnya itu 2 kubik perdetik, jadi untuk satu hektar sawah itu keperluannya 1,2 kubik perdetiknya itu untuk tahap pengolahan sawah, sedangkan untuk masa pertumbuhan padi itu 0,30 perkubik perdetiknya. Jadi kalau untuk sekarang memang tidak mampu karena kondisi debit air yang terus berkurang,” akuhnya.

Saat ini, lanjut Marsono bendungan Wundulako mengairi lahan persawahan seluas 640 hektar yang tersebar didua kecamatan, namun ada beberapa titik area persawahan yang rawan akan mengalami kekeringan yakni didesa Towua, desa PuuRoda, dan diTadadai Sabilambo. Yang mana ketiga titik tersebut merupakan area terunjung dari irigasi bendungan Wundulako

“Ada tiga titik yang sangat rawan akan kekeringan karena tempatnya diujung. Bahkan saat ini kondisi didesa PuuRoda diblok E itu sudah mulai kering, dimana luas area persawahannya mencapai 60an hektar. Jadi kalau kita totalkan ditiga titik rawan kekeringan itu totalnya mencapai ratusan hektar sawah yang terancam kering,” bebernya.

Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat kemaru yang berkepanjangan, pihaknya akan mencari solusi agar area persawahan yang sidah terlanjur ditanami padi bisa terselamatkan dari kekeringan. Adapun solusi yang akan dilakukan pihaknya yakni dengan sistem gilir, karena hanya cara demikianlah ancaman kekeringan bisa dihindari.

“Solusinya kami akan melakukan musyawarah bersama masyarakat dibeberapa desa yang dilalui saluran irigasi agar bencana kekeringan bisa diatasi. Dan kita akan lakukan sistem gilir tapi kita mau lakukan pertemuan antara petani dari desa Towua dan Sabiano biar kita bisa selamatkan padi yang sudah terlanjur ditanam yang usia tanamnya sudah 1 bulanan. Itu rencana kami semoga saat petani paham karena kondisi ini. Jadi nanti air dari bendungan Sabiano akan kita satukan biar air bisa mengairi sawah didesa Towua begitupun yang ada didesa PuuRoda. Jadi kita harapkan para petani bisa paham, karena hanya itulah solusinya. Jika pake mesin pompa sumber airnya tidak ada jadi tidak bisa menggunakan mesin,” jelasnya.

Marsono juga menyayangkan sikap para petani yang tidak peduli akan himbauannya, sehingga petani melakukan proses tanam disaat musim kemarau tiba.

“Ini yang kami sayangakan sebab kami sudah himbau sejak bulan Mei lalu agar petani segera membuka lahan, tetapi mereka abaikan justru disaat musim kemarau ini barulah mereka mau mengolah makanya saya larang mereka jika akan turun sawah, bahkan ada beberapa petani yang mulai melakukan pengolahan tapi saya suru hentikan ini demi kebaikan petani juga,” tutupnya. (K9/c/hen).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top