BERITA UTAMA

Watak Saya Nasionalis Profesional

DR.Azhari (Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka)

Permasalahan jalan di desa Popalia, kecamatan Tanggetada yang juga akses utama mahasiswa Universitas Sembilanbelas November (USN) menuju kampus menarik banyak atensi. Berawal dari keluhan berlanjut ke aksi mahasiswa, masalahnya meluas hingga menyerempet persoalan rasis. Wartawan Kolaka Pos, Mirwanto Muda mewawancara khusus rektor USN DR. Azhari untuk menjabarkan persoalannya. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa jelaskan, sudah berapa lama kampus USN di Tanggetada ditempati?

Kampus USN di Popalia itu bangunannya proyek tahun 2015 ya, setelah itu mulai ditempati oleh Fakultas Pertanian. Bahkan sebelum USN berstatus negeri pada 2014 itu, Fakultas Pertanian itu memang sudah kita buka kelas di Tanggetada, dan itu banyak mahasiswanya. Jadi mereka itu memang mereka kuliah di sana sejak awal, yang disini (kampus Kolaka) cuma sedikit. Nah, setelah negeri, bangunannya jadi dan bangunan yang lantai satu sudah siap ditempati, Fakultas Pertanian sudah disitu semua. Jadi sejak 2015 memang sudah disitu.

Kemudian, pada tahun 2016-2017 saya dorong lagi Fakultas Sains dan Teknologi, Teknik untuk pindah ke sana. Mengapa dipindahkan? Karena kan kapasitas gedung perkuliahan yang kita miliki disini (kampus Kolaka) tidak cukup. Luasnya hanya satu hektar lebih sedikit, ditinggali oleh mahasiswa diatas lima ribu waktu itu. Pada saat itu kita bisa membayangkan akan sering terjadi bentrokan antar mahasiswa, ya namanya mahasiswa. Mereka main futsal akan terjadi baku lempar gitu, jadi pasti akan kacau. Seperti yang terjadi di kampus lain, kekacauan itu karena sumpeknya di dalam kampus itu. Maka saat itu, saya pindahkanlah fakultas Sainstek itu pada 2016-2017.

Masalah jalan tak diaspal ini, mulai ramai sekitar tiga minggu belakangan. Sebenarnya, sudah berapa lama civitas akademika USN melewati jalanan itu?

Pada saat mereka pindah disana, itu jalanan kan masih begitu terus.

Maksud jalannya begitu terus, apakah jalanan bagus menjadi rusak, atau jalanannya memang belum pernah diaspal?

Kalau di Popalia itu memang belum pernah diaspal, itu sejak dulu. Kalau jalan yang di Anaiwoi yang menuju desa Popalia itu memang diaspal pada tahun 2016, tapi itu mohon maaf, pengaspalan juga hanya sampai di kantor Camat itu. Tahun 2017 saya sudah mulai protes, itu bisa dilihat di internet, bisa dilihat di pemberitaan-pemberitaan media itu. Di situ saya selalu mengatakan bahwa Pemda harus mengaspal, Pemda harus mengaspal.

Berapa panjang jalan yang belum diaspal itu pak?

Nda panjang kok, kalau hanya sampai ke kampus itu hanya sekitar 3 kilometer. Tapi, nyatanya tidak diaspal juga kan. Makanya saya protes lagi, 2017 saya protes, 2018 saya protes, kemudian diberi janji bahwa 2019 akan diaspal, tapi buktinya 2019 ini akan berakhir tanpa diaspal. Setelah itu, kita berharap di 2020 masuk, tapi saya dapat informasi itu jalan tidak masuk dan itu pernyataan dinas PU. Mereka mengatakan bahwa itu tidak prioritas.

Jadi, jalan Popalia itu dianggap tidak prioritas. Kalau menurut bapak bagaimana?

Ah inilah yang menjadi tanda tanya buat saya gitu, yang dimaksud prioritas dan tidak prioritas itu yang seperti apa?

Menurut bapak jalan itu prioritas tidak?

Prioritaslah. Apakah kita tidak bangga, ada universitas negeri di kabupaten? Ini satu-satunya di Indonesia timur, ada di daerah ini (Kolaka). Memangnya kampus negeri di Indonesia berapa banyak sih, kampus negeri seluruh Indonesia se level universitas itu tidak lebih dari 60, itu sudah termasuk UT (Universitas Terbuka). Lalu kenapa USN tidak bisa diberikan perhatian khusus. Itu sebuah perjuangan yang luar biasa dari kita semua loh, lalu kemudian tidak dijadikan prioritas. Jadi, kalau bicara prioritas harusnya itu prioritas dong.

Karena mahasiswanya banyak ya?

Iya betul itu, mahasiswa kami beribu-ribu melalui jalan itu. Kemudian, apakah kita nda malu sebagai orang Kolaka jadi bahan diskusi mahasiswa dari Medan, Aceh, Jakarta, Jambi dan daerah lainnya yang kuliah di USN. Mereka semua ada di USN loh, tidak ada lagi yang namanya hanya orang Kolaka yang kuliah disini, salah itu. Yang kuliah disini itu sudah ada perwakilan dari seluruh Indonesia, mereka masuk melalui SNMPTN. Karena SNMPTN itu dibuka seluruh Indonesia, USN sama dengan kampus-kampus negeri lain di Indonesia.

Berarti pernyataan ini sekaligus membantah ada nepotisme di dalam kampus?

Nepotisme itu apa sih, saya juga bingung itu mereka bilang ada nepotisme

Ada yang bilang bahwa pengelolaan kampus itu ada pendekatan kesukuan

Ah oke mari kita bicara. Saya ini terlahir di Pulau Muna wilayah Buton, tepatnya di Mawasangka pada 10 Juni 1976. Saya sekolah di sana dari kecil dan tamat SMA pada 1995, kemudian sejak saat itu saya tinggalkan lah Mawasangka, karena saya jadi satu-satunya yang lulus di STPDN mewakili kabupaten Buton waktu itu. Masuklah saya di Bandung, saya di Bandung empat tahun selesai 1999. Pulang tahun 1999 itu saya kemudian ditugaskan di Kolaka, di Kolaka waktu itu sekitar 6-8 bulan saya pergi lagi lanjutkan S2 di UGM, kemudian pulang tahun 2002 akhir, dan 2003 saya dipercaya jadi staf khususmembantu Bupati Buhari Matta. Mulai dari situ saya berkarir terus di Kolaka sampai sekarang ini. Nah kalau dihitung masa tinggal saya di Kolaka, mulai menjabat rektor mulai 2004. Kalau kemudian dihitung sejak saya ber KTP Kolaka sejak tahun 1999 itu sudah 20 tahun saya jadi orang Kolaka. Artinya saya lebih lama di Kolaka daripada di Buton. Jadi dimana saya mau dibilang bahwa saya sukuisme, membedakan Mekongga, Bugis dan Buton dan sebagainya itu.

Itu dari sisi bapak sendiri. Kalau dari sisi birokrasi kampus, persentase kesukuan apakah ada ketimpangan pak?

Pada saat pertama menjadi rektor di USN Kolaka saat itu masih swasta, saya itu sangat menjaga supaya jangan orang dari Buton menjadi pegawai disini. Bisa dilihat itu, di USN itu hanya dua orang Buton yang ada disitu pada zaman dulu. Satunya staf biasa, bukan dosen. Dia itu sudah lama ada disini, sebelum dia ketemu saya, artinya dia sudah tinggal di Kolaka. Dan dia pada waktu seleksi tes, dia lah yang memiliki nilai paling bagus di angkatannya. Kedua, dia itu orang Mawasangka juga, tapi dia sudah lama di Kolaka karena dia nikah dengan orang Bugis di Kolaka setelah dia itu datang melamar untuk menjadi pegawai di kampus. Kebetulan dia prestasinya bagus untuk masuk di kampus hanya itu orang-orang yang saya ingat masuk di USN saat itu. Kemudian, ada juga dari Muna, tapi dia sudah jadi guru PNS di Kolaka sejak lama, baru masuk USN.

Artinya bapak tidak membawa gerbong Buton saat menjabat rektor ?

Tidak ada. Apa yang saya bawa coba. Saya sudah katakan saya tinggalkan kampung halaman sejak SMA, saya ini anak bungsu. Tiga kakak saya yang perempuan, bersuami orang Bugis. Ibu saya juga memiliki saudara tiri dari Bajo karena istri kedua ayahnya, berasal dari Bajo. Mana mungkin saya bawa yang begitu-begitu, saya nda paham itu bilang ada persaingan suku apa suku apa, saya nda ngerti ada yang bilang begitu. Lagian saya alumni STPDN, UGM. Watak saya nasionalis profesional. Bukan partisan begitu.

Bagaimana dengan nepotisme, misalnya soal mahasiswa bidikmisi di USN. Katanya ada ketimpangan persentase, lebih banyak penerimanya dari kepulauan?

Kalau bisa, mereka (yang bilang begitu) bertaubat. Nanti mereka dikena adzab oleh Allah. Karena apa? Setiap saya penerimaan bidikmisi di USN Kolaka yang saya patok pertama kali bahwa yang lolos bidikmisi itu harus yang kedua orang tuanya sudah meninggal, itu prioritas pertama. Prioritas kedua, mahasiswa yang bapaknya sudah meninggal, selanjutnya yang ibunya meninggal. Setelah itu, habis ini semua yang saya cari siapa orang tuanya sudah bercerai, itu aja. Jadi, tolong hilangkan pemikiran-pemikiran begitu, jangan sampai mereka dikena adzab ya, dan itu sebenarnya fitnah. Karena semua yang dapat beasiswa pasti tahu, karena saya selalu berdiri di hadapan mereka dan saya tanya siapa yang kedua orangtuanya meninggal angkat tangan, dan seterusnya.

Seberapa besar sih campur tangan bapak untuk menentukan kelulusan bidikmisi?

Tetap saya bisa saja punya kewenangan. Mereka itu kan harus ikut seleksi dulu di pusat. Itu lulus itu sudah ada nama-namanya di kementerian, dan saya tidak boleh menarik diluar nama-nama itu tanpa ada alasan yang jelas. Tapi kalau ada alasan yang bisa saya pertanggungjawabkan itu bisa saja, misalnya satu dua orang. Tapi kalau banyak tidak bisa, bahaya itu karena itu sudah ada filenya di pusat. Jadi mereka ini dari SMA memang sudah mengisi form ikut tes dibidik di pusat. Kadang-kadang kalau ada kelebihan kuota yang dilulus itu masih diseleksi lagi. Misalnya seperti tahun ini yang lulus dipusat itu 800 lebih sementara kuota bidikmisi USN itu hanya 380 orang. Nah inilah yang kita harus seleksi lagi, maka patokan saya untuk menyeleksi mereka ini, itu yang saya jelaskan tadi yaitu yatim piatu, yatim, piatu dan yang orangtuanya telah bercerai gitu loh.

Saya punya data kelulusan bidikmisi di USN, datanya menunjukkan sekitar 50 persen yang lulus bidikmisi berasal dari Kolaka. Artinya, pernyataan bapak tadi, memang benar.

Iya, memang begitu. Kalau dibanding-bandingkan begitu jauh sekali, karena saya memang mengutamakan mahasiswa Kolaka untuk maju gitu lho. Kalau ada yang buat fitnah tentang saya, ya sudahlah, nanti kita buka data semua agar mereka datang cek sama saya. Cuma saya ingatkan ya, ini kalau sudah terlalu banyak fitnah ini urusannya bukan cuma dengan saya, ada Allah.

Bagaimana dengan latar belakang pendirian kampus B USN di Mawasangka, bisa dijelaskan?

Oh kalau kampus B di Mawasangka itu, kita ini kan yang pertama harus visioner, jadi orang itu harus visioner, apa itu visioner, itu membaca apa yang akan terjadi ke depan. Yang kedua, melihat peluang, kalau peluang itu ada kenapa kita tidak ambil, ya kan. Kemudian, USN Kolaka itu jelas, di dalam SK penetapan pendiriannya oleh presiden itu berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2014 tentang pendirian USN itu jelas, menimbang di pasal A dikatakan, bahwa dalam rangka untuk peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia dan pemerataan mutu pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara perlu mendirikan perguruan tinggi negeri di provinsi Sulawesi Tenggara.

Jadi kalau menunjuk Kolaka (nama USN Kolaka), disini sebenarnya itu menunjuk nama, bukan menunjuk tempat. USN Kolaka, Kolaka itu adalah bagian nama dari USN, bukan menunjuk tempat karena di SK itu tempatnya jelas di provinsi Sultra, bukan di Kolaka, ini perintah presiden bukan perintah kita gitu.

USN tidak rugi mendirikan kampus di Mawasangka?

Apa ruginya kalau USN buka kampus disana? Yang jelas, pada saat ini USN di Tanggetada itukan hanya memiliki tanah 30 hektar, itu akan kita bangunkan 6 fakultas, sebelum saya berhenti jadi rektor Insya Allah terbangun semua itu gedung baru di Popalia sana untuk 6 gedung fakultas itu. Kalau sudah ada 6 fakultas itu, berarti sudah mulai ada tingkat kejenuhannnya. Kita mau bangun apalagi? sementara kita di USN Kolaka ini sudah mulai dipercaya dikasih program studi Farmasi, ini sekarang lagi mengusul untuk prodi Kesehatan Masyarakat, itu artinya embrio untuk menuju fakultas Kedokteran. Nah, kita mau dirikan dimana itu fakultas itu, sementara kita punya lahan kampus yang ada (Tanggetada) sudah mulai habis. Saya mintalah, kalau bisa masyarakat Kolaka dan Pemda bantulah saya untuk kembalikan itu tanah USN yang di Baula, supaya disitu saya jadikan fakultas Kesehatan dan Kedokteran. Ayo kembalikan!

Kampus di Mawasangka bagaimana?

Kampus yang di Mawasangka itukan masyarakat yang hibahkan tanah pada saat saya pulang kampung saat itu. Mereka bilang, kalau biasa USN ada disini juga, coba dirikan kampus juga disini. Saya jawab, oh ya nanti saya coba. Dikasihlah masyarakat adat disana tanah seluas 100 hektar untuk USN, itu diappraisal untuk dilaporkan di Jakarta diterima oleh negara dan dicatat sebagai aset negara. Itu tahun 2018 lalu, nilai tanahnya Rp4 miliar lebih. Itu appraisal resmi negara. Itulah dasar kita serahkan ke negara sebagai asetnya USN.

Sepertinya, pembangunan kampus B di Mawasangka, dikaitkan dengan sejarah riwayat bapak yang berasal dari tanah Buton.

Watak saya nasionalis yah? Kalau mau dibilang saya itu orang yang sukuisme, jauh itu jauh. Dulu sebenarnya saya tidak mau lama-lama di sini, tapi Pak Buhari itu yang tahan saya, dia tahan saya di Kolaka, jangan pergi. Dia minta dan paksakan saya USN itu harus jadi universitas, saya akhirnya menikah di sini.

Pak Buhari Matta itu siapa? Dia yang bimbing saya di sini, siapa sih dia? Diakan orang Soppeng, orang Bugis saya ini kan orang Buton tapi dia sayang sekali sama saya sebagai anaknya. Kemudian saya tinggal di sini saya menikah sama orang Jawa apalagi?

Dalam keluarga saya, saudari saya tiga orang menikah dengan orang Bugis, kemenakan saya dari mereka itu hampir 20 orang. Dan ini mereka semua di sana di Buton. Kami di Buton tidak ada yang bilang kamu ini orang Buton, kamu orang Bugis, biasa aja kami di sana. Di Makassar juga kami begitu, buktinya itu profesor pembantu Rektor Unhas sekarang siapa itu, itu kan orang Buton. Ada kah dia dikata-katai Buton. Lalu kenapa di Kolaka ini yang hanya berbeda satu desa saja kok kita menjadi sangat masalah yah?

Dari zaman dahulu kala loh, dari zaman dahulu kala antara orang Bugis dengan orang Buton tidak ada masalah. Nenek moyang saya itu tinggal di Bone, banyak yang tinggal di Bone. Orang Bone juga banyak yang tinggal di Buton. Janji kami itu kalau pergi di Bone dua malam bermalam itu sudah selesai, bukan lagi dianggap orang Buton dia sudah orang Bone. Sama juga kalu orang Bone pergi di Buton kalau dia sudah bermalam dua malam dia sudah orang Buton bukan orang Bone.

Bagaimana dengan Palopo? Palopo itu dengan kami itu luar biasa. Pada tahun 1400 di Buton itu mengangkat sapati perdana menteri pertama di Kesultanan Buton itu namanya Opu Manjawari, Opumajawari ini dia itu Mokole di Poleang Bugis dan dia juga Datuk di Selayar waktu itu, tapi dia kan bangsawan Luwu dialah yang kemudian membawa Poleang Bugis itu untuk masuk ke dalam kekuasaan Kesultanan Buton dan Kerajaan Buton waktu itu baru menjadi kesultanan dia yang kemudian juga membangun menbawa peradaban persawahan di Buton.

Makanya di Baubau itu ada yang namanya kampung Luwu-Luwu. Luwu-Luwu itu itu adalah permintaan dari Opu Manjawari kepada Datuk Luwu mita warga yang mahir dalam bertani padi, dibawa ke Buton, tahun 1400 an itu. Dibawalah mereka itu ke Buton berapa keluarga, itulah yang menjadi cikal bakal orang Buton mengenal padi.

Itu asal mulanya memang hubunganya kita dengan Luwu. Jadi persaudaraannya kita dengan Luwu dan itu Opu Manjawari di Mawasangka yang dekat kampus yang kita bangun itu di wilayah Opu Manjawari itu sampai sekarang masih ada pohonnya pohon nato yang ditanam tahun 1400. Semua orang tahu, dan orang Buton tahu bahwa itu aset dan kebunnya Opu Manjawari. Siapa itu Opu Manjawari orang Luwu tapi dia patih di Buton tapi kami tidak lagi menganggap dia orang Luwu kami menganggap dia orang tua kami gitu, yah.

Di Kolaka ini, di tanah Mekongga ini, orang Buton dan orang Muna juga punya nenek moyang. Ada dua, Wa Sitau dengan Wa Bokeo. Wa Sitau itu putri raja Mekongga yang dinikahi oleh raja Buton. Dia memilkiki satu anak perempuan di Buton, yang kemudian cucunya melahirkan Murhum dan bangsawan Buton Muna. Kemudian Wa Sitau kembali ke Kolaka dan dinikahi raja Lakidende, karena itu syarat agar Lakidende diangkat menjadi raja, yaitu dia harus menikahi putri bangsawan dari sini. Diambillah kembali Wa Sitau dari Buton dia menjadi permaisuri Raja Lakidende, tapi tidak punya anak. Dia hanya punya anak di Buton, anak perempuan, yang kemudian menjadi orang tua sebagian bangsawan-bangsawan Buton dengan Muna itu. Jadi kami datang ke sini (Kolaka), sama halnya kami pulang melihat kampung halaman nenek kami, gitu.

 Kembali ke kampus. Kabarnya, kampus B di Mawasangka tahun depan dibangun dengan nilai 30 miliar rupiah ya?

Iya, itu akan dibangun melalui dana SBSN tahun 2020. Kenapa 30 miliar itu dikasih untuk di sana, karena di Pemda Buton Tengah, cepat kita dikasih surat rekomendasi, sementara di Kolaka itu hari terlambat kita dikasih rekomendasi, sehingga pada saat permintaan kita untuk di Bappenas itu juga terlambat.

Untuk mendapatkan bantuan proyek pembangunan gedung, ya itu kita harus ajukan proposal dan bersaing di kementerian. Kita bersaing dengan seluruh perguruan negeri lainnya di Indonesia sesuai klasternya. Misalnya USN, itu bersaing dengan seluruh universitas yang berstatus satker, UHO bersaing dengan seluruh universitas BLU, dan Unhas bersaing dengan seluruh universitas yang berstatus BHMN. Alhamdulillah 2018 kita bersaing 2019 USN lolos dan dapat proyek itu, hanya tujuh satker yang dapat itu dan di Sulawesi ini setahu saya hanya USN yang dapat. Makanya dapatlah kita proyek 67 miliar itu, 30 miliar di Mawasangka, selebihnya di Popalia.

Tapi, saat ini sudah ada yang dipindahkan ke Mawasangka kan? Yang pindah itu fakultas atau program studi?

Lah, inilah yang jadi masalah. Orang tidak bisa membedakan. Ada yang bilang beberapa fakultas dipindahkan. USN itu sampai saat ini hanya punya enam fakultas. Mengatakan beberapa itu, berarti ada dua atau tiga atau lebih dari itu fakultas yang dipindahkan. Itu tidak ada, itu bohong. Yang ada itu (dipindahkan) dua program studi, peternakan dan perikanan, itu dua program studi lama. Program studi baru itu, jurusan kimia murni, karena disini (Kolaka), ada pendidikan kimia, FKIP. Daripada benturan, kita bawa ke kampus B. Itu sudah dikaji di kementerian, termasuk usulan baru kelautan, perkapalan. Karena disana (Buteng), lautnya lebih luas. Itu permintaan kementerian juga.

Berarti yang betul, saat ini tiga program studi yang pindah ke kampus B, dan kemungkinan bertambah menjadi lima dengan prodi kelautan dan perikanan?

Tiga program studi, bisa saja jadi lima sesuai dengan kompetensinya. Tidak ada yang namanya pindah fakultas. Untuk mendirikan fakultas itu, izinnya bukan hanya ke menteri kami (pendidikan), itu juga melapor ke KemenPAN baru bisa, sedangkan saat ini sedang moratorium. Jangan bilang fakultas, tertawa orang.

Lalu kenapa tiga prodi itu yang dipindahkan di kampus B?

Itu yang dipindahkan bukan langsung dipindahkan begitu saja, tapi itu kita paparkan di Jakarta. SK pendirian USN yang di Mawasangka itu SK menteri, bukan SKnya Azhari. SK menteri tentang pengoperasian kampus B USN Kolaka di Buton Tengah sebagai pengembangan kampus USN Kolaka.

Apa yang dikembangkan disana? Jadi di pulau Buton dan Muna itu termasuk Wakatobi dan pulau Kabaena itu jumlah lulusan SMA/SMK nya untuk tahun 2018 sebanyak 16 ribu orang. Dari jumlah itu, menurut data BPS hanya bisa lanjut sampai ke perguruan tinggi itu hanya sekitar 4.000 orang, sisanya tidak kuliah karena faktor ketidakmampuan secara ekonomi. Nah, itulah makanya pemerintah pusat dorong dan izinkan kami buka kampus B disana supaya mengakomodir ini dengan memberikan SPP yang murah. Nah sekarang persoalannya apa yang kita mau bangun disana. Jadi yang cocok untuk program studi dibawa disana itu hanya tiga program studi itu. Karena yang tiga program studi ini juga sulit berkembang di Kolaka.

Apa indikatornya ketiga prodi itu susah berkembang di Kolaka?

Mahasiswanya. Berdasarkan data mahasiswa kami, tahun 2018 prodi Kimia itu hanya punya mahasiswa empat orang. Kemudian, Perikanan dan Pertanian itukan jurusan yang sudah ada sejak kampus ini masih swasta, tapi mahasiswanya setiap tahun tidak sampai 10 orang. Susah sekali kita kembangkan. Nah itukan merugikan, karena harusnya prodi sudah ditutup ini.

Lalu apakah boleh kampus negeri menutup prodi? Ya, boleh lihat saja itu di UGM setiap tahun menutup dan membuka program studi, begitu juga di Unhas. Karena apa? Ya yang harus dihitung itu break even point, karena mau membiayai satu program studi sementara yang kuliah disitu sedikit, di lain ada program studi yang mahasiswanya banyak sekali tapi komposisi dosennya kurang, itu bisa membahayakan.

Maksudnya, USN mau cari untung begitu?

Tidak, tapi kita memaksimalkan sumber daya. Dan jika kita tetap pertahankan prodinya, sedangkan jumlah mahasiswanya tidak bertambah, itu bisa menjadi bahaya ke depan. Apa bahayanya? Jurusan MIPA, Peternakan dan Perikanan itu semua mesti diadakan laboratorium, kalau lab dibangun besar-besar dengan anggaran miliaran dari negara lalu yang pakai lab itu hanya sedikit, apa itu tidak mubazir? Apa saya tidak ditangkap nanti? Karena lab itu akan rusak sendirinya, bukan karena dipakai, tapi rusak karena tidak terpakai. Itu contoh membangun mubazir. Mubazir itu berarti analisisnya yang tidak benar, kalau analisis kebijakannya tidak benar pada saat membangun berarti namanya itu korupsi kebijakan. Jadi kalau kita lihat bangunan-bangunan dengan peruntukan tertentu, kemudian tidak terpakai sesuai peruntukkannya, maka itu namanya korupsi kebijakan dan itu bertentangan dengan Undang-undang. Itu bisa ditangkap.
Makanya kita bawa di kampus B di sana, dan Alhamdulillah baru kita buka tahun ini sudah banyak mahasiswanya.

Tapi, dari sisi ekonomis, apa keuntungan bagi USN atau Kolaka, dengan berdirinya USN di Mawasangka?

Kampus yang ada di sana itu namanya kampusnya kolaka. tanah yang ada 100 hektar yang ada di sana itu namanya asetnya USN Kolaka. Semua yang dimiliki bangunan di sana itu bangunanya USN Kolaka jadi bukan bangunanya Buton Tengah, bukan. Kalau di sana itu mahasiswanya 1.000 orang, semua SPP nya disetor semuanya di Kolaka, bukan disimpan disana, disini disetor, nanti di sini yang atur.

Nah, justru ini kebalik Pemda Kolaka kan mau panggil Politeknik Makassar untuk buka di sini mau difasilitasi gedung difasilitasi tanah mau difasilitasi, dengan macam-macam, SPP nya itu kan lari di sana semua. Lalu tidak ingat kah? Dulu ada Komunitas Akademik Pangkep disini, akademik komunitas negeri Kolaka yah? Itu kemudian dibina oleh Pangkep artinya dalam kewenangan Pangkep. Kalau saya tidak salah itu ada tanah 5 hektar bersertifikat tapi sertifikat itu atas nama Akademik Komunitas Pangkep. Jadi itu asetnya Pangkep walaupun tanah ada di sini dan tidak diolah kan? Karena akademik komunitas itu tidak berjalan dan pemda kalau saya tidak salah waktu itu pernah menghibahkan dana untuk pembelian peralatan lab bagi akademik komunitas itu dan itu asetnya siapa? itu kan asetnya Politeknik Pangkep. Saat di sini sudah tidak berkembang kan dikembalikan semua ke Pangkep. Nah nanti sama dengan Politeknik Makassar ini, kalau Politeknik Makassar ini buka di sini artinya aset yang diberikan saat ini kepada Politeknik Makassar itu semua akan kembali ke sana, akan mereka bawa. Apakah di sini bisa dibikin Politeknik? Bisa saja. Tapi itu yang harus bikin adalah USN, kalau Pemda juga mau bikin sendiri itu biayanya itu terlalu tinggi, tinggi banget biayanya.

Berarti pengembangan USN di Mawasangka sudah tepat?

Bukan cuma di Mawasangka. Jadi saya ada tanah yayasan dulu kampus yang dikolaka utara, saya dalam waktu dekat akan hubungi bupati Kolaka Utara. Saya akan mengajak bupati Kolaka Utara untuk mendirikan Politeknik di sana. Nanti kita lihat apakah saya bisa cepat bikin atau tidak gitu, yah?

Yang kedua, di Bombana, Bupati Bombana itu dua kali saya ketemu, dia datang sendiri ke kampus USN dan kemudian saya sendiri mengunjungi dia di bombana untuk bersama-sama melihat lokasi yang akan dijadikan kampus USN di sana. Terkendala kenapa ? karena bupati hanya bisa membeli tanah 10 hektar tidak boleh lebih dari itu, kalau lebih dari itu berarti dia harus izin gubernur, waktu itu pak bupati sudah tidak sempat lagi. Tapi kan di Bombana itu sudah ada akademik komunitas semacam vokasi saya nanti akan ketemu bupati bombana untuk melihat bagaimana mengembangakan Akademik Komunitas Bombana itu untuk menjadi perguruan tinggi Politeknik yang resmi, negeri, saya akan bantu mereka.

Memangnya, USN di Kolaka dan Tanggetada sudah tidak butuh pembenahan?

Apa yang harus saya benahi di USN? Apa tidak lihat USN itu dalam jangka waktu 4 sampai 5 tahun ini hampir semua bangunan fakultasnya itu akan terpenuhi. Ini sekarang kita sudah punya gedung 5 fakultas, ini yang akan selesai tahun ini, sudah ada lima bangunan yang jadi. Empat bangunan dengan satu bangunan tiga lantai juga, rektorat juga selesai tahun ini. Tahun depan itu sekarang kami lagi usulkan membangun dua fakultas, artinya sudah semua. Apa lagi yang tidak terpenuhi? Di USN ini terpenuhi semua, santai aja, saya bisa penuhi semua.

Kembali soal jalan di Popalia. Katanya, jalan depan kampus USN itu tidak diaspal karena ada yang kurang sreg antara USN dengan Pemda ya?

Kalau masalah USN dengan Pemda Kolaka tidak harmonis, saya pikir itu hanya sesuatu yang dibesar-besarkan. Nda ada saya masalah dengan siapapun, biasa aja. Bahwa kalau saya dikatakan diberikan undangan dan diperlakukan tidak benar sesuai protokol di dalam undangan itu memang ada. Kenapa dibilang rektor USN tidak pernah hadir upacara-upacara nasional? Cobalah kembali berpikir yang bilang seperti itu, apakah dia mahasiswa benaran pada saat kuliah di kampus. Lihat, ada nda, rektor pergi upacara di kantor daerah? Apakah mereka belum pahami bahwa USN itu adalah Satker menteri, bukan Satkernya yang lain. Kita garis komandonya langsung ke menteri.

Kita juga diwajibkan upacara sendiri juga di kampus pada hari-hari besar itu, sama halnya dengan pemda. Karena semua kampus negeri itu wajib upacara di kampusnya masing-masing, dan itu dilaporkan melalui unggahan foto yang dikirim Humas. Kemudian, kalau mengundang saya, dan kami mengutus perwakilan tapi seolah-olah kami tidak hadir karena hanya mengirim utusan, rektor tidak hadir. Jangan begitulah, memangnya USN ini hanya Azhari saja? Nda boleh utus perwakilan? Saya minta perlakukanlah kami sebagaimana kampus.

Sudah pernah minta secara langsung ke Pemda untuk dibantu pengaspalan?

Begini ya pak, kita kembali ke asas yang benar ya, jangan kita berdebat ke asas yang tidak benar. Kenapa rektor USN itu kenapa tidak pernah meminta ke Pemda untuk membangun jalan, tidak pernah mengusulkan untuk membangun jalan? Karena itu bukan gawean Rektor USN, USN tidak punya kewenangan dengan jalan itu. Itukan jalan poros dari Anaiwoi, Popalia, Tinggo, dan Rahanggada, bukan jalan untuk USN. Empat desa loh yang mau lalui itu, yang Musrembang itu kan dari tingkat desa, apa harus rektor USN masuk di Musrembang desa untuk mengusulkan itu. Setelah itu kawal lagi di Musrembang kecamatan dan tingkat kabupaten. Apakah itu kewajiban rektor USN? Bukan kan. Itu harusnya perhatian Pemda saja, perlu ndak ada jalan di jalan aspal di sana, sebagaimana Pemda perhatian dengan jalan mulus menuju Keakea, jalan mulus menuju taman Kakao.

Kewenangan rektor itu, segala sesuatu di dalam pagar kampus. Jadi, kecuali rektor meminta pemda untuk membangun bangunan kampus, itu memang rektor harus bersurat kepada Pemda. Nanti kalau Pemda dorong surat itu ke DPRD, di DPRD itu kemudian didorong untuk Musrembang. Di Musrembang itu bisa saja rektor USN dipanggil untuk presentasi kenapa USN minta bangunan dengan Pemda, karena itu kewenangan saya karena untuk bertanggungjawab atas pemberian itu. Kalau berbicara dialog-dialog saya dengan pak Safei dari dulu akrab lah, periode pertama beliau kan saya sering ketemu dan selalu saya mengingatkan soal jalan itu.

Atau mungkin hubungan bapak sebagai rektor dengan bupati atau hubungan pribadi Azhari dan pribadi Safei yang renggang?

Saya sebagai rektor, hubungannya koordinatif dengan bupati. Jadi saya bukan bawahan bupati. Hubungan kami biasa saja. Saya dengan pak Safei, sejak saya masuk Kolaka, utamanya sejak zaman pak Buhari Matta, tahun 2003, itu sama-sama terus. Hampir tiap hari kami sama-sama, hampir tiap malam kalau rapat penting, kami berkumpul bersama.

Sebagai rektor dengan bupati, kami juga tidak ada masalah. Pelantikan pertama saya sebagai rektor beliau hadir. Peresmian USN, beliau hadir. Koordinasi lancar.

Sebagai pribadi lancar banget. Saya di Kolaka sejak 1999. Sejak 2003 waktu saya pulang sekolah, sampai masa jabatan pak Buhari, kami sering sekali sama-sama. Berdiskusi macam-macam. Termasuk merencanakan target ke depan masing-masing, bahwa saya cukup membesarkan USN dan pak Safei harus kami dorong sebagai pengganti pak Buhari ke depan. Kita diskusikan sama-sama. Pak safei ke rumah saya, saya ke rumah pak safei. Kami dipeluk pak Buhari bahwa kami ini bersaudara, pak Safei kakak, ibu Asmani (Asmani Arief) kakak kedua, dan saya sebagai adik. Itu biasa.

Dari dulu kami sering berbeda pendapat waktu di zaman pak Buhari. Bahwa kami berbeda pendapat dengan pak Safei dan ibu Asmani, dengan pak Buhari, itu biasa. Sampai kita baku bombe juga. Tapi tidak harus runcing begini. Karena meski kami bertengkar, pada akhirnya kami baku cari lagi.

Terus kalau begitu, kenapa mesti begaduh di medsos?

Kenapa saya berkomentar di facebook? lho itu tidak ada yang salah saya komentar di facebook, karena saya juga hanya menanggapi informasi yang beredar di salah satu grup FB. Saya memang faham bahwa saya minta, karena mahasiswa saya sudah sering kecelakaan, dosen saya sudah sering jatuh disitu, doktor Wayan Pageyasa (kepala LPMP USN) jatuh disitu. Berbagai insiden itu menggugah keprihatinan saya sampai emosional, terbawa perasaan.

Ada yang bilang rektor curhat di medsos. Ih, bukan cuman rektor man. Itu trump (donald Trump presiden Amerika) tiap hari posting dan komentar di twitter, pak Jokowi, pak SBY, Fahri Hamzah, hampir semua pejabat itu mengutarakan pemikirannya melalui medsos. Karena itu cara dia untuk mempengaruhi kebijakan dan menguji sejauh mana kebijakan yang dia bikin diterima atau ditolak. Itu namanya bagian dari proses kebijakan. kalau ada yang nyinyir rektor komentar di facebook, itu orang kurang update.

Mungkinkah ada yang merecoki?

Harusnya kalau saya lagi ada perbedaan pemikiran dengan pak Safei, kalau birokrat di Pemda yang paham itu, mereka akan menyimak saja. Karena tahu pada saatnya kami (Azhari dan Safei) akan baku cari lagi, akan baku rangkul lagi. Coba misalnya kalau besok saya ketemu dengan pak Safei, apasih yang mau dia bilang dengan saya? Paling nanti dia hanya akan tegur saya “Kamu itu” (sambil menunjuk-nunjuk), setelah itu sudah.. selesai.. kami akan jalan sama-sama lagi, tidak akan ada apa-apa. Kenapa? karena kita sudah saling mengenal terlalu jauh, 10 tahun lebih kita sama-sama.

Kondisinya seperti benci tapi rindu ya?

Tidak ada.. biasa saja. saya itu tidak ada benci sama beliau. Beliau juga tidak benci sama saya. Saya pernah menghadiri acara HUT Kolaka. Cuma waktu itu saya agak jengkel, saya berdiri saya pulang sebelum acara berjalan. Kenapa? karena saya dikasih tempat duduk jauh sekali. Bukan masalah Azhari, ini undangannya rektor, setara eselon I, masa saya disimpan jauh sekali, ini kehormatan universitas. Mungkin itu juga dia marah.

Pada saat saya memberi tanggapan di grup FB itu, memang tengah malam, perasaan yang terbawa, saya menulis tidak sepenuhnya dengan logika murni. Itu saya menulis memang seperti curhat. saya tulis “Wahai saudaraku”, saya menyebut ini bukan kepentingan pribadi saya, itu untuk kepentingan anak-anak kita. Itu ditanggapi sama wartawan, datang wawancara saya. Saya harus bilang dong kondisinya seperti itu. Dan ditonton sama pak safei, jadi mungkin itulah beliau marah sama saya. Seolah-olah saya mempermalukan dia. tapi saya tahu ukurannya. Kalau saya disebut mau menjatuhkan atau mempermalukan bupati, kenapa dengan hal seperti itu (masalah jalan tidak diaspal)? Seharusnya sebagai seorang ahli kebijakan, saya menyoroti kebijakan pembangunan yang tidak sesuai peruntukannya di Kolaka, seharusnya itu yang saya soroti kalau mau menjatuhkan saudara saya bupati Kolaka. Tapi apakah pernah saya melakukannya? Sebagai akademisi, saya telah menumpulkan diri saya.

Orang tidak tahu bagaimana hubungan saya dengan pak safei. Jadi kalau saya ada perbedaan pemikiran dengan pak Safei, kalian diamlah, tidak usah ikut campur, tidak usah tambah-tambah. Pegawai saya di kampus itu begitu, tidak usah ikut campur. Mahasiswa mau demo, silahkan demo, tapi jangan bikin ribut, jangan menghina, jangan menghujat. Tetapi, mereka seolah-olah. Ini ada satu orang yang tidak tahu bagaimana hubungan saya dengan pak Safei, mau merecoki, komentar seenak perutnya. Saya juga ini manusia. Kalau saya terpancing dan saya tanggapi, bagaimana?

Memangnya kapan terakhir bapak berhubungan dengan pak bupati?

Pak Safei setelah jadi bupati, agak susah telepon-teleponan, nomornya diganti. Tetapi kalau saya bertemu dia, biasa saja. Terakhir dia ke rumah saya, 2014. Saya ke rumah pak Safei, selama dia jadi bupati, memang belum. Tapi sebelum jadi bupati, sering. Biar di rumahnya orang tua beliau dan saudaranya, sering. Kita sering baku cari.

Tapi setelah itu, kita memang sama-sama sibuk. Beliau jadi bupati, saya dilantik jadi rektor. Secara dinas, saya pernah datang kegiatan beliau di Rujab. Kami terakhir bertemu kalau tidak salah 2018, ada pesta di Lalombaa. Kita salaman, duduk bersama, biasa saja. Jadi tidak usah ditambah-tambahi.

Tapi saya sering mendengar kabar soal perbedaan politik bapak dan pak Safei

Pada 2017, saat datang Danrem kendari memberikan ceramah di USN, pak Safei datang juga. Disitu sudah mulai ada isu macam-macam yang menyeret saya, karena sudah menjelang pemilihan bupati. Saya panggil pak Safei, saya tarik tangannya masuk ke ruangan di lantai satu kampus, saya tutup pintu hanya kami berdua, bercerita. Ini Lillahi ta’ala saya bilang dengan dia. Saya bilang “Kak, ada isu-isu tentang saya dengan kita, tolong telepon saya, panggil saya, nanti tanya saya, tidak usah marah, panggil saya saja. Kenapa? karena di Kolaka ini yang bisa diadu itu hanya kakak dengan saya. Kenapa? karena saya ini rektor, punya kewenangan juga, punya proyek, punya staf. Hanya saya di Kolaka yang tidak punya kepentingan sama kita, minta jabatan, minta proyek, minta pekerjaan, cuma saya., Yang lain itu punya kepentingan dengan kita, minta bantuan, minta proyek, jabatan, usulkan ini, itu.

Saya pernah bilang, saya biarlah jadi penyeimbang saja di luar. apa itu penyeimbang? mencoba meluruskan kalau ada yang salah jalan. Tapi apakah saya pernah mencarikan kesalahan? Penyeimbang itu, tidak ada tendensi untuk menjatuhkan. Kalau saya ingin menjatuhkan sebagai oposisi, memangnya saya ingin menjadi bupati begitu? Tidak ada hayalan saya, cita-cita saya untuk menjadi bupati Kolaka. Tulis ini, saya sejak pertama kali datang di Kolaka, saya sudah berjanji pada diri saya dan teman-teman saya, saya tidak akan mencalonkan diri saya jadi bupati di Kolaka. Kenapa? biar saya urus kampus saja. Saya menjadi rektor, supaya saya bisa perjuangkan USN ini menjadi matang sebelum nanti saya tinggalkan.

Kita doakan pak Safei dilindungi dalam melaksanakan pembangunan di Kolaka. Saya mengingatkan sebagai saudara, teman, akademisi, pertama, hati-hati dalam pembangunan, prioritas harus jelas, setelah dibangun dipertanggungjawabkan penggunaannya, kalau tidak itu sesungguhnya pelanggaran hukum. Kedua, hati-hati dengan orang disekitar kita. Perlu saudaraku ingat, pada zaman pak buhari, saat kita bersama-sama kita bisa menjaga pak buhari sehingga pada lima tahun pertama pak Buhari, hampir-hampir tidak ada masalah hukum yang menjerat pak buhari. Nanti setelah saya tinggalkan, baru masuk kasus, misalnya soal penjualan sisa nikel kadar rendah kepada pak Atto itu.

Terakhir, dengan segala perjuangan dari swasta sampai USN menjadi negeri apa harapan bapak terhadap USN ke depan?

USN ini didirikan oleh para pejuang. Pendiri pertamanya siapa? Basolewa almarhum, Haji Nurung almarhum, Pak Tahrir almarhum, pak Muhammad Djaenung almarhum, kemudian pak Samsudin Sanusi, kemudian Zainal Abidin Arifin. Nah setelah itu siapa lagi yang kita mau sebut yah, ketua STIKIP pertama pak Djalante pembantu gubernur Sulawesi Tenggara, ketua STIKIP kedua pak Yusran Silondae, waktu itu kepala dinas di Kolaka, lalu Mustika Rahim dan Yan Iswan.

Harapan saya yang kita bangun ini jangan sampai disia-siakan, Azhari itu punya masa jabatan setelah itu selesai itu mekanisme negara yang berlaku pemilihan rektor. Perlakuan anggaran itu semua mekanisme negara kita tidak boleh membawa prinsip-prinsip pribadi disitu, dan sejak awal USN itu saya bangun dengan warna nasionalisme. Ada yang Kristen jadi dekan FKIP, Hindu jadi dekan ada. Justru orang Muna dan Buton yang paling saya tahan jadi pejabat di situ. Sekarang ada pak Prof Ruslin Hadanu yang menjadi wakil rektor I saya. Tapi marilah kita bersyukur, dia mau datang di sini, dia itu professor di Univeritas Pattimura, memang dia itu professor terbaik cumlaude S2 dan S3 UGM untuk kimia, dan dia konsultan untuk pendidikan waktu itu di Dikti. Ada juga dari UGM saya panggil tidak mau, dari Unhalu tidak mau, dari Unhas tidak ada yang mau ke sini, cuma Prof Ruslin Hadanu. (*/ema)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top