BERITA UTAMA

Gunsyar Membantah

Gunsyar Guntur

KOLAKAPOS, Kolaka — Gunsyar Guntur, direksi PT Hawk Teknologi Solusi (HTS), salah satu perusahaan Internet Service Provider (ISP) membantah jika pengadaan jaringan internet desa yang dikerjakannya amburadul. Meski demikian, ia mengakui ada desa yang internet desanya belum berfungsi.

Namun hal tersebut terjadi karena ada ketidaksesuaian perjanjian dengan realita diantara Kades dengan perusahaannya. “Jadi begini, yang tidak berjalan itu karena uangnya belum masuk, sementara saya sudah bangunkan towernya, jadi banyak kepala desa banyak yang nakal. Hampir rata-rata belum bayar,” jelasnya, melalui sambungan telepon (13/12).

Gunsyar yang juga ketua Kadin Kolaka itu juga membantah jika ada kades yang berkomentar atau mengeluhkan pemasangan towernya. “Saya sudah telepon kades, tidak ada yang berkomentar,” terangnya.

Agar dapat berjalan optimal, ia meminta para Kades yang sudah terikat kontrak dengan PT.HTS, melunasi kesepakatan kontrak. “Saya sudah melakukan pekerjaan pemasangan tower 62 desa, perjanjian kontraknya harusnya 70 persen dari penawaranku dilunasi, atau sesuai progresnya, tapi banyak yang belum bayar, makanya saya berhenti dulu, hampir rata- rata banyak tidak kasih masuk uang, jadi saya stop pekerjaan dulu,” jelasnya.

Dalam melaksanakan proyeknya, Gunsyar mengatakan, tidak pernah mengambil uang para Kades sebelum ia mengerjakan proyeknya. “Tidak ada saya ambil uangnya sebelum jadi towernya, kecuali biaya registrasi,” ujarnya sembari menyebut menawarkan biaya pembangunan internet desa seharga Rp40,5 juta, sudah termasuk pajak.

Agar mendapatkan kontrak pembangunan internet desa, Gunsyar mengaku memperhatikan Peraturan Bupati. Sehingga, untuk mendapatkan kerjasama dengan para Kades, ia tidak memaksa, melainkan dengan metode lobi. “Sebelumnya mereka ke Telkom tapi tidak bisa dilayani. Makanya direkomendasikan ke saya. Karena saya punya izin, legal ada kantor jelas, makanya direkomendasikan Telkom ke saya,” jelasnya.

Untuk desa Wulungggere kata Gunsyar, memang telah membayar full, namun dirinya mengatakan bahwa sudah dikembalikan. “Wulungggere sudah bayar full. Tapi sudah saya kembalikan lagi,” terangnya.

Dirinya juga mengaku jika standar pemasangan jaringan internet diperusahaannya, paling murah dan diakui BPKP. “BPKP juga sudah turun , yang belum berjalan itu hanya kendala teknis, dan mereka akui kalau 40 juta itu sudah murah untuk satu paketnya,” ungkapnya.

Gunsyar juga mengatakan bahwa seandainya para Kades membayar sesuai kontrak, pekerjaan pengadaan internet desa itu telah lama rampung. “Seandainya sesuai kontrak, sudah lama selesai, sejak bulan 6 sudah selesai pastinya,” ujarnya.

Sementara perusahaan penyedia jasa ISP lainnya, Hj. Asma, direktur PT Sarana Intermedia Mekongga (SIM) kepada Kolaka Pos mengatakan jika biaya pemasangan jaringan internet desa yang dilayaninya tidak lebih dari 30 juta rupiah. “Kalau di saya tidak ada yang sampai 30 juta rupiah satu desa, dan kita tidak ratakan semua desa, kita sesuaikan dengan hitungan jarak,” terangnya.

Dia juga mengatakan dalam pemasangan jaringan internet desa itu perusahaanya membangun tower triangle setiap desa dengan tinggi hingga 30 meteran dan dilengkapi dengan alat yang mumpuni. “Kita pasangkan tower triangle, kalau dekat hanya gunakan pipa galvanis, dan juga kita pake alat yang mumpuni, bisa dicek , semua lancar, dan tidak ada masalah,” ungkapnya.

Dia bahkan menjamin di desa manapun atau lokasi yang paling terjauh, perusahaan nya sanggup untuk memasang jaringan internet. “Karena alat yang bagus, dimanapun bisa, jadi memang kalau pake alat tidak mumpuni, biar dekat tidak bisa konek,” ujarnya.

Dalam pengadaan jaringan internet desa itu katanya , perusahaan nya hanya mengambil keuntungan dari pembayaran perbulannya. “Kita untungnya hanya dipembayaran bulanan, kita memang mau jangka panjang, bukan asal pasang saja,” ujarnya.

Lanjutnya, dia juga menyayangkan pada penyedia jasa layanan pemasangan jaringan internet desa yang tidak bertanggung jawab akan pekerjaan nya. “Masa sudah ambil uangnya baru tidak konek-konek, lalu alat yang digunakan tidak bagus, kan kasian kepala desanya,” tutupnya. (mir)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top