BERITA UTAMA

Pimpinan Ponpes Mengaku Ditodong Pistol Oknum TNI

ilustrasi/net

KOLAKAPOS, Kolaka — Ustadz Sutamin, pimpinan pondok pesantren Ihya’ Ahsunnah, kecamatan Wundulako, Kolaka, mengaku diintimidasi oleh oknum TNI. Dari penuturannya, ia ditodongkan pistol dan diancam akan dibunuh pada Kamis (9/1).

Menurut Sutamin, kronologisnya bermula saat seorang guru di Ponpesnya, Muhammad Dzul datang menyampaikan bahwa seorang warga bernama Mardin More bersama tiga anggota TNI mengambil gambar lokasi pondoknya. Tidak lama kemudian, datang salah seorang santri dan mengatakan ada yang ingin bertemu dia. Sutamin pun keluar menemui tamu tersebut. Mereka adalah Mardin More bersama anaknya TNI berpangkat Letkol Marinir AL didampingi oleh dua anggotanya yang berpangkat Lettu dan Serda.

Mereka dipersilakan masuk ke dalam kantor, tapi langsung menunjukkan sikap agresif. “Namun ternyata langsung ditanggapi dengan marah oleh Letkol AF serta menodongkan pistol ke kepala saya. Lalu Mardin More mendekati anaknya seraya berkata ‘awas kamu ya. Sudah lama saya tahan anak saya. Sekarang rasakan. Mau cari mati. Sekarang saatnya’,” ungkap Sutamin.

Menurutnya, penodongan pistol itu disaksikan oleh banyak santri. Akan tetapi oknum TNI melarang dan mengancam para santri memvideokan tindakan mereka. Lalu, sambung Sutamin, Mardin More menarik dirinya diikuti dengan dorongan paksa dan upaya pemukulan. Bahkan Letkol AF kembali menodongkan pistol ke arah Sutamin. Setelah itu, Sutamin dipaksa ikut ke dalam mobil.

Sutamin meminta izin untuk mengambil HP tapi tidak diizinkan keluar dari mobil. Sehingga ia meminta salah seorang santri dan guru untuk mengambil HP di kantor. Setelah HP diterima, ia mengaku kembali diancam tidak boleh menghubungi siapapun. Bahkan HP miliknya diambil secara paksa.

Sutamin meminta untuk dibawa ke Polres Kolaka. Tapi, para oknum itu menyuruhnya diarahkan ke Pos Angkatan Laut Kolaka. Dalam perjalanan di mobil tersebut, Sutamin mengaku mengalami berbagai ancaman.

Ketika tiba di kantor Pos AL Kolaka, diakuinya terjadi pengancaman dan penodongan pistol oleh Letkol AF di bagian kepala. Dikatakan Sutamin, Mardin More mengambil pistol anaknya tersebut kemudian Letkol AF mencabut sangkurnya dan mengancam ke dirinya. Setelah itu, dia mengaku mendengar tembakan peringatan disusul dengan perkataan bahwa itu sudah ada tembakan peringatan.

Atas kejadian yang dialaminya, Ustadz Muhammad Sutamin akhirnya melayangkan aduan ke Polres Kolaka. Paur Humas Polres Kolaka, Bripka Riswandi membenarkan bahwa kepolisian telah menerima aduan pengancaman tersebut pada Jumat (10/1). “Sudah ada, tapi itu masih aduan belum laporan. Aduannya atas dugaan pengancaman,” kata Riswandi membenarkan.

Letkol AF Bantah Lakukan Penodongan Senjata

Letkol Marinir AF membantah dugaan dirinya yang melakukan aksi menodongkan pistol kepada pimpinan Pondok Pesantren Ihya Ahsunnah Kolaka, Muhammad Sutamin. Menurutnya, dalam video yang beredar, gerakan yang dia lakukan hanya memastikan untuk mengamankan letak senjata miliknya agar tidak jatuh ke tanah, karena tempatnya yang longgar. “Senjata itu bukan senjata organik, tetapi soft gun yang tidak memiliki amunisi dan juga gas. Itupun saat kejadian saya tidak pernah keluarkan, hanya memperbaiki dari tempatkan agar tidak jatuh karena tempatnya longgar. Jadi apa yang dikatakan bahwa saya menodongkan pistol itu tidak benar sama sekali,” ujarnya, saat konferensi pers di Aula Mapolres Kolaka, Jumat (10/1) sore.

Letkol Marinir AF juga tidak membenarkan adanya bunyi letusan di area Kantor Pos TNI AL Kolaka. Kata dia, letusan tersebut berasal dari petasan yang dimainkan oleh anak-anak yang bermain tidak jauh dari disekitar lokasi Danposal Kolaka. “Dan kami sudah konfirmasi dengan Danposal yang memiliki area disitu, dan kebetulan ada anggota yang sedang jaga di depan. Saya konfirmasi yang bunyi itu adalah bunyi letusan petasan mainan anak-anak yang kebetulan di depan itu banyak anak-anak sedang bermain. Saya pun juga tidak memastikan apa betul-betul petasan, karena kami posisi di dalam dan letusan itu di luar. Di luar sekitar depan sebelah kiri Pos AL,” jelasnya.

Selain itu ditanya soal sangkur, ia mengatakan saat terjadi peristiwa tersebut dirinya sedang menggunakan pakaian dinas lengkap, Sebab, pada saat kejadian masih jam kerja dan institusi militer mewajibkan penggunaan atribut lengkap. “Namun, saat pelaksanaan interogasi, dia melepaskan seluruh atribut tersebut lalu meletakkan di atas meja. Orang tuanya Mardin More, kemudian mengamankan dengan mengantongi pistol miliknya. Sedangkan sangkur yang dimaksudkan dalam video diamankan di ruangan tata usaha. “Kami akan memasukan laporan ke Polres Kolaka terhadap orang yang melakukan penyebaran video tersebut di media sosial pertama kali. Karena itu sudah mencemarkan nama baik saya dan juga institusi. Danposal Kolaka akan menindaklanjuti dan mencari tahu nama akun yang menyebarkan video tersebut,” katanya.

Satu-satunya yang dibenarkan oleh Letkol AF adalah soal perkataan ancaman terhadap ustadz Muhammad Sutamin. Perkataan tersebut berbunyi “Pistol ini jauh-jauh saya bawa dari Surabaya untuk ditembakan ke kepala kamu (Muhammad Sutamin, red). “Kalau soal yang saya sampaikan itu, mungkin, okelah benar. Tapi itukan spontanitas saja, bukan dalam rangka untuk itu (mengancam),” akunya.

Sementara itu, Komandan Pos TNI AL Kolaka, Lettu Sutedjo turut membantah telah melakukan pengancaman terhadap ustadz Muhammad Sutamin dengan cara melakukan tembakan peringatan. Menurutnya, bunyi letusan terjadi saat peristiwa itu bukan berasal dari senjata yang dipegangnya. Kata dia, bunyi letusan yang dimaksud tersebut berasal dari luar area kantornya. “Kami tidak pernah mengeluarkan tembakan, bisa dicek amunisi saya juga masih utuh,” ucapnya.

Senada dengan Letkol AF, Lettu Sutedjo mengatakan bisa jadi berasal dari petasan yang dimainkan oleh anak-anak yang bermain tidak jauh dari di sekitar lokasi kantornya.

Dalam konferensi pers di Aula Mapolres Kolaka, Mardin More dan anaknya Letkol AF didampingi Wakapolres Kompol Robert, Danposal Kolaka Lettu Sutedjo, dan Kasat Intel Polres Kolaka Iptu Asiz Lama.

Ditempat yang sama, Wakapolres Kompol Robert Boroh Silas menghimbau kepada kepada masyarakat Kabupaten Kolaka agar tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga situasi Kamtibmas.

Paur Humas Polres Kolaka Riswandi menambahkan, digelarnya konferensi pers di Mapolres Kolaka karena atas permintaan pribadi Mardin More dan anaknya, Lektol AF.
“Jadi konferensi pers ini atas permintaan pribadi keluarga pak Mardin More, bukan atas permintaan antara institusi, dan kami hanya sebagai yang menfasilitasi tempat,” ujarnya.

Beberapa warga disekitar kantor Pos TNI AL, yang dijumpai Kolaka Pos, mengaku tidak mendengar suara letusan apapun pada Kamis. “Saya berjualan disini dari pagi kemarin (Kamis), tapi tidak ada saya dengar letusan senjata,” kata warga yang sehari-hari berjualan bensin eceran sekitar 30 meter dari Kantor Pos TNI AL.

Menurutnya, di daerah tersebut memang sering dijadikan tempat bermain petasan anak-anak. Bahkan, tak jarang mereka mendapat teguran dari warga setempat. Namun pada hari itu, ia bersama rekannya yang juga berjualan disekitar kantor Pos AL, tidak melihat anak-anak bermain petasan. “Waktu hari Kamis kemarin memang tidak ada anak-anak yang main disini. Karena kalau tidak salah, malam sebelumnya mereka sudah didatangi dan ditegur oleh petugas Satpol PP,” timpal rekannya.

Danlanal Nyatakan Anggotanya Memediasi

Di Kendari, Komandan Pangkalan Angkatan Laut Kendari, Kolonel Laut, I Putu Darjatna mengatakan anggotanya bertindak profesional dengan membantu mediasi antara kedua belah pihak. “Terima kasih mengklarifikasi masalah lahan di Kolaka. Untuk diFB dan tersebar kemana mana, itu berita tidak benar. Itu tanah milik orang tua Letkol AF, dibuktikan sertifikat juga atas nama orang tuanya yg dipegang oleh pak ustad. Anggota kami hanya membantu memediasi di kantor biar tidak ribut-ribut di lokasi. Demikian pak yang bisa kami infokan sementara ini. Tolong juga dibantu biar tidak menimbulkan keresahan banyak pihak,” jawabnya melalui WhatsApp. (kal/ema)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
error: Content is protected !!