BERITA UTAMA

Kondisi RSUD Muna Memprihatinkan

Wakil Ketua DPRD Muna, Natsir Ido, Ketua Komisi III DPRD Muna, Irwan dan sejumlah anggota komisi III mengelar pertemuan di ruang rapat RSUD Muna dihadiri Dirut RSUD dan Sejumlah Staf. FOTO: Ahmad/Kolaka Pos

KOLAKAPOS, Raha — Wakil ketua DPRD Muna, Natsir Ido, Ketua Komisi III, Irwan dan sejumlah anggotanya melakukan sidak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna, Kamis (13/2). Beragam keluhan mereka terima dari pasien hingga pengunjung RSU BLUD tipe C itu. Yang paling umum soal pelayanan dan fasilitas yang belum memadai.

Anggota Komisi III DPRD Muna, Andi Sapri dalam rapat dengar pendapat bersama Direktur RSUD Muna, dr Muhammad Marlin dan sejumlah staf rumah sakit menyatakan sangat prihatin melihat kondisi rumah sakit tersebut. 90 persen kamar mandi atau water closet (WC) diruang pasien rusak dan butuh perhatian. “Saya sempat masuk ke ruang WC, bukan main sangat kotor dan bau. Bahkan ada juga yang tersumbat. Ada juga pasien di kamar A, saat ingin “buang air” mereka harus buang air ke WC ruang B. Kasihan rakyat, mereka harus menerima pelayanan yang seperti ini. Jadi harus dicarikan solusi ini agar pelayanan dan fasilitas di rumah sakit ini menjadi lebih baik kedepan,” tegas Fraksi PDIP itu.

Senada, anggota komisi III, Awal Jaya Bolombo membeberkan keluhan soal jam kerja dokter ahli di rumah sakit tersebut. Menurutnya, Pemkab Muna telah membayar insentif dokter ahli sebesar Rp30juta perbulan tetapi jam kerjanya tidak jelas. “Ini soal dokter ahli. Pasien menunggu sampai jam sembilan tetapi dokternya belum hadir. Jadi jam berapa jadwalnya ini dokter ahli. Kalau mereka hanya bekerja empat jam sehari lebih baik dihentikan saja itu insentifnya,” tegurnya

Sementara itu, Direktur RSUD Muna, dr Muhammad Marlin menyadari bahwa sejak diaktifkan pada 2017 silam, rumah sakit berlantai tiga tersebut belum sempurna untuk melakukan pelayanan kesehatan. Namun, ia meyakinkan secara perlahan pihaknya terus melakukan pembenahan agar rumah sakit tersebut menjadi lebih baik dalam melakukan pelayanan kesehatan ke masyarakat. “WC memang menjadi masalah dan terus menjadi keluhan. Kami sudah berupaya melakukan perbaikan. Kita belikan mesin pompa hingga alat penyedot. Tetapi belum maksimal. Jadi kami ini masih berusaha untuk terus melakukan perbaikan. Soal kebersihan, memang ada masalah dengan petugas cleaning service karena pihak ketiga yang memfasilitasi mereka itu putus kontrak dengan rumah sakit akhir Desember 2019 lalu. Jadi sekarang cleaning servicenya sementara ditangani rumah sakit sambil menunggu pemenang tender dari pihak ketiga,” katanya.

Soal dokter spesialis, Marlin mengakui RSUD Muna saat ini sangat kekurangan dokter spesialis. Pasalnya, dokter spesialis yang bertugas di RSUD Muna hanya berjumlah 12 orang. “Jadi kita butuh empat orang dokter spesialis lagi, yakni dua orang dokter bedah, satu kandungan dan satu penyakit dalam,” pungkasnya. (m1)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top