METRO KOLAKA

Kadis Dikbud Kolaka : Ritual Mosehe adalah Warisan Budaya yang Harus Tetap Dijaga dan Dilestarikan

Kadis Dikbud Kolaka Drs H Salamansyah, M. Sc

KOLAKAPOS, Kolaka — Ritual Mosehe Wonua atau pensucian negeri yang sempat diprotes salah satu ustad di Kolaka melalui isi ceramahnya, karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan sempat membuat geram masyarakat Tolaki Mekongga, rupanya Mosehe tersebut merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang diakui oleh pemerintah pusat.

Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan (Kadis Dikbud) Kolaka H Salamansyah mengatakan, ritual Mosehe merupakan warisan budaya yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Apalagi pemerintah telah mengakui budaya Mosehe dan dilindungi oleh undang-undang.

“Pemerintah sudah menjamin melalui undang-undang kemajuan kebudayaan nomor 5 tahun 2017. Jadi Mosehe itu sudah terdaftar sebagai satu warisan budaya tak benda nusantara dari ribuan yang dicatat oleh negara maka dari itu harus dijaga dan dilestarikan. Dan kalau negara sudah menjamin kenapa ada individu yang ingin menghilangkan tradisi ini,” katanya saat ditemui media ini, Selasa (10/3).

Dirinya juga menyayangkan sikap dari oknum ustad yang langsung memponis bahwa Mosehe itu adalah syirik akbar yang bertentangan dengan agama Islam.

“Kalau saya menyikapi terkait kasus ini memang harus hati-hati karena budaya dan turunan-turunannya tradisi kearifan dan sebagainya itu dijamin dalam undang-undang kemajuan kebudayaan dan diIndonesia jumlahnya banyak ada ribuan tradisi. Sehingga memang seharusnya sebelum diucapkan harus dia pahami betul apa sebenarnya Mosehe, dan dibagian mana ritual itu yang menyimpang dengan agama Islam yang dikatergorikan sebagai syirik jangan sampai dia hanya dapat sepotong informasi dari segelintir orang sehingga membuat jastifikasi ini yang kita sayangkan,” ucapnya.

Padahal kata Salamansyah, pada saat HUT Kolaka kemarin pihaknya, sudah berusaha mengundang semua paguyuban atau kerukunan budaya-budaya yang ada dikabupaten Kolaka untuk tampil memeriahkan, karena ada yang kita kejar yaitu program prioritas Pemda Kolaka salah satunya peningkatan kualitas paham kebangsaan pendidikan, kebudayaan dan penguatan paham kebangsaan maka itu kita munculkan, sehingga kita saling mengenal kita saling menghargai kemudian bisa kita gunakan mereka sebagai instrumen untuk menata keberagaman toleransi keBhinekaan dikabupaten Kolaka ini.

“Tidak boleh ada satu orang yang latar pengetahuan tidak memadai terkait budaya kemudian membuat stekmen,” terangnya.

Menurutnya, Mosehe itu tidak bertentangan dengan agama, karena kalau kita urut pelan-pelan prosesi Mosehe mulai dari prosesi awal diawali dengan ucapan Bismiilah, kemudian isinya tidak meminta kepada mahluk lain selain Allah SWT, maka itu saya fikir kontes dan konten terkait dengan hal itu memang harus dipahami sebelum dilempar kepablik.

“Mo itu melakukan sehe itu suci atau pensucian kalau berbicara sejarah Mosehe itu ritual meminta kepada yang maha kuasa untuk disucikan agar tidak terjadi gejolak dimasyarakat sehingga hadirlah Mosehe untuk mendamaikan agar kebencian dan dendam itu dihilangkan dan disucikan kembali. Kalau soal tempat, dimana-mana saja orang itu selalu berdoa kita mau naik pesawat pasti berdoa, keluar rumah berdoa, naik kendaraan berdoa, masuk hutan, dan apapun kita akan kerjakan dimanapun tempatnya kita pasti berdoa. Sehingga dimana yang dia maksud itu syiriknya dalam ritual Mosehe Jadi kalau ada riak dimasyarakat saya pikir hal yang wajar,” jelasnya. (K9/c/hen).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top